Selasa, 05 April 2011

Ketika Tanpa Kekerasan Sama Dengan Bunuh Diri

Ted Kacynski

Sekarang adalah musim gugur 2025, sistem tekno-industrial telah runtuh setahun yang lalu, tapi kau dan teman-temanmu baik-baik saja. Kebunmu tumbuh dengan subur di musim panas ini dan di pondokmu, kau memiliki persediaan sayur-sayuran, kacang-kacangan dan bahan makanan lainnya yang dapat dikeringkan akan menjadi bekalmu melalui musim dingin yang akan tiba. Kini kau sedang memanen kentang-kentangmu. Dengan sekop, kau dan teman-temanmu mencabut satu kentang setelah yang lainnya dan mecerabut akar umbi dari tanah.


Tiba-tiba saja temanmu menyikut lenganmu dan kau pun menoleh. Uh-oh. Sekelompok orang mendatangi jalan kecil menuju kebunmu. Mereka bersenjata. Sepertinya mereka sedang bermasalah tetapi kau tetap berdiri tegap. Pemimpin kelompok itu pun berjalan menghampirimu lalu berkata,


“Kentang-kentang yang kau miliki nampak bagus”

“Yeah”, jawabmu. “Kentang-kentang ini memang bagus"

“Kami datang ke sini untuk mengambilnya” kata pemimpin kelompok tersebut.

“Akh, persetan dengan kalian!” jawabmu. “Kami menghabiskan musim gugur yang panjang dengan bekerja keras untuk memelihara kentang-kentang ini…”


Pemimpin kelompok mengarahkan senapannya tepat ke wajahmu lalu berkata, “---- kau, telaso”. Kepada anggotanya ia menambahkan, “Dick, Ziggy, periksa pondok mereka dan lihat makanan apa saja yang mereka miliki. Kami hanya pindah dan menghabiskan musim dingin di sini. Mick, tangkap wanita jalang ini sebelum ia pergi menjauh. Dia memiliki bokong yang indah. Kita semua akan menggilirnya malam ini”.


Kau menjadi murka dan mulai berteriak, “Anak sundala’ kau! Kau tak bisa......”

Lalu senapan menyalak; BANG! Kau pun mati.


* * *


Tanpa kekerasan hanya bekerja ketika kau memiliki polisi untuk melindungimu. Dalam hilangnya perlindungan polisi, tanpa kekerasan sangat dekat dan setara dengan bunuh diri.


Tak dapat dipungkiri bahwa hal ini tidaklah begitu tepat pada semua waktu dan tempat. Di antara suku Pygmie di Afrika sebagaimana yang diuraikan oleh Colin Turnbull, kekerasan yang mematikan melawan manusia hampir tak diketahui. Dalam masyarakat pemburu dan peramu nomaden lainnya, orang-orang kadang kala membunuh seorang lainnya dalam perkelahian, akan tetapi mereka tak pernah menaklukkan teritori atau suku lainnya secara sistematis. Dalam kondisi seperti ini, tanpa-kekerasan tidak inkonsisten dengan kelangsungan hidup.


Tetapi, secara realistis, kondisi tersebut bukanlah kondisi yang akan berlaku jika dan ketika sistem tekno-industrial menjadi kolaps. Terdapat beberapa bagian orang di luar sana: Nazi, Hell’s Angels, para mafia Ku Klux Klan… serta banyak kelompok lainnya yang tidak termasuk dan tak dikenali. mereka tidak lenyap saat sistem itu runtuh. Mereka akan selalu berada di sekitar kita. Mereka mungkin berhasil saat menanam makanannya sendiri bahkan jika mereka tidak mencoba ataupun tidak ingin melakukannya oleh karena orang dari tipe yang semacam itu akan lebih banyak menemukan kesenangan untuk mengambil makanan daripada menanam makanan miliknya sendiri. Dan sejak meraka menjadi ganas, mereka mungkin akan membunuhmu atau memperkosamu hanya karena suatu kesenangan dari hal itu, bahkan mereka tidak membutuhkan makananmu.


Banyak orang, bahkan terlalu banyak, yang berada dalam kondisi sekarang merasa tentram dan seolah-olah–nyaman, mungkin dapat kembali menjadi ganas saat melakukan hal yang tidak-tidak terhadap makanan dan lahan agrikultur yang baik untuk menanam makanan. Kekurangan bahan pangan mungkin bukan menjadi hal penting yang disebut area “miskin” dunia dimana petani masih secara relatif memiliki ketercukupannya sendiri, namun di negara-negara industrial yang sepenuhnya bergantung pada pestisida, pupuk kimia dan bahan bakar bagi traktor (dan banyak hal-hal lain) dimana beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk menanam secara efisien, kekurangan makanan pasti menjadi hal yang akut saat sistem ini kolaps.


Mari lengkapi asumsi untuk berargumen bahwa negara yang terindustrialkan memilki cukup lahan yang baik untuk ditanami semua orang , dalam terori, akan dapat menanam makanan mereka sendiri dengan metode primitif. Dalam lenyapnya fungsi pemerintah, takkan ada cara untuk mendistribusi penghuni kota di daerah pedalaman dan secara sistematis menentukan bidang tanah sendiri setiap keluarga. Akibatnya, akan ada kekacauan dan kebingungan. Beberapa orang akan mencoba mengambil lahan yang terbaik menurut mereka, dan yang lain akan memusuhinya serta perkelahian yang mematikan akan muncul. Grup bersenjata akan mengorganisir dirinya sendiri demi keamanan mereka sendiri ataupun untuk tujuan-tujuan agresif. Jika kau ingin bertahan hidup dikolapsnya sistem ini, lebih baik kau mempersenjatai diri sendiri dan bersiap untuk menggunakan senjata dengan efektif. Artinya kau menjadi siap secara psikis sebagaimana juga secara fisik.


Bersenjata dan bersiap bertarung untuk pertahanan diri tidak hanya menjadi kondisi yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupmu sendiri, hal ini akan menjadi tugasmu. Para Nazi’s Hell’s dan Ku Klux Klan tidak akan menjadi musuh yang paling berbahaya bagi kebebasan. Karena orang-orang tersebut tak memilki aturan, kacau dan tanpa hukum, mereka tidak mungkin dapat menciptakan organisasi yang besar dan efisein. Akan jauh lebih berbahaya dengan orang-orang yang menjadi tulang punggung sistem yang ada saat ini, orang yang bisa beradaptasi untuk hidup dalam organisasi-organiasi yang disiplin yaitu: ilmuan-ilmuan borjuis, eksekutif bisnis, birokrat, pegawai-pegawai militer, beberapa polisi dan seterusnya. Orang-orang ini akan berminat untuk mendirikan kembali tatanan dan organisasi serta sistem teknologi secepat mungkin. Metode mereka akan menjadi tidak terlalu kasar ketimbang para Nazi dan Hell’s Angles namun tidak segan-segan untuk mengunakan kekuasaan dan kekerasan saat hal ini menjadi kebutuhan bagi pencapaian tujuan mereka. Kau MESTI bersiap untuk mempertahankan diri secara fisik melawan orang-orang ini.


Reprinted from Live Wild or Die #8 (2001)

Manually Translated | Konspirasi Tinjabersayap (Januari 2010)

Berbahayanya Ideologi Kiri

Karena kebutuhan mereka untuk memberontak dan keanggotaan dalam sebuah gerakan, kaum Kiri atau orang-orang yang memiliki tipe psikologis yang mirip seringkali tak tertarik pada sebuah gerakan pemberontakan atau pada para aktifis yang memiliki tujuan-tujuan dan syarat keanggotaan yang tak dapat dikategorikan Kiri. Hasil dari perilaku tipe-tipe Kiri ini yaitu bahwa mereka dapat dengan mudah menggeser gerakan non-Kiri menjadi gerakan Kiri, sehingga tujuan-tujuan kaum Kiri tersebut akan mengganti atau mendistorsikan tujuan-tujuan gerakan tersebut.Untuk menghindari hal ini, sebuah gerakan yang memuliakan alam dan menentang teknologi harus memiliki sikap anti-Kiri dan menghindari kolaborasi apapun dengan para kaum Kiri. Ideologi Kiri dalam jangka panjangnya bersikap tak konsisten dengan alam liar, dengan kebebasan manusia dan dengan pengeliminiran teknologi modern. Ideologi Kiri adalah kolektifis; ia berusaha mempersatukan seluruh dunia (baik alam maupun ras manusia) ke dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Tetapi hal ini akan berdampak pada pengaturan alam dan hidup manusia oleh masyarakat yang terorganisir, dan hal tersebut membutuhkan teknologi maju. Engkau tak akan dapat memiliki sebuah dunia yang bersatu tanpa adanya transportasi dan komunikasi yang gencar, engkau tak dapat membuat semua orang saling mencintai tanpa adanya teknik-teknik psikologis yang mapan, engkau tak akan dapat memiliki sebuah “masyarakat yang terencana” tanpa mendasarinya dengan teknologi. Dalam kesimpulannya, ideologi Kiri digerakkan oleh kebutuhan akan kekuasaan, dan kaum Kiri mengupayakan kekuasaan dalam basis kolektif, melalui pengidentifikasian dengan sebuah gerakan massa atau sebuah organisasi. Ideologi Kiri biasanya tak akan menentang teknologi, karena teknologi adalah sebuah sumber daya yang sangat berguna bagi pendukung kekuasaan kolektif.

Seorang anarkis juga mengupayakan kekuasaan, tetapi ia mengupayakannya dalam basis individual atau kelompok kecil; ia ingin agar para individual dan kelompok-kelompok kecil mampu mengontrol keadaan hidup mereka sendiri. Ia menentang teknologi karena hal tersebut membuat kelompok-kelompok kecil jadi sangat tergantung pada organisasi besar.

Beberapa dari kaum Kiri mungkin akan menentang teknologi, tetapi mereka akan menentangnya sepanjang mereka tidak menjadi bagian di dalamnya dan sistem teknologi tidak berada di bawah kontrol kaum Kiri. Apabila ideologi Kiri menjadi dominan di tengah masyarakat, maka sistem teknologi akan menjadi sebuah alat di tangan kaum Kiri, mereka akan menggunakannya dengan antusias dan mempromosikan pertumbuhannya. Dalam melakukannya mereka akan mengulangi kembali alur yang dilakukan oleh kaum Kiri sebelumnya. Saat Bolshevik di Russia masih berada di luar masyarakat, mereka luar biasa menentang badan sensor dan polisi rahasia, mereka menyokong hak-hak kaum etnis minoritas untuk menentukan nasibnya sendiri, dan demikian seterusnya; tetapi begitu mereka mendapatkan kekuasaan bagi diri mereka sendiri, mereka menerapkan penyensoran yang lebih ketat dan menciptakan sebuah badan polisi rahasia yang lebih tak punya rasa kasihan dibandingkan dengan yang pernah eksis di bawah kekuasaan Tsar, dan mereka juga mulai menindas kaum etnis minoritas kurang lebih sama seperti yang dilakukan oleh Tsar. Di Amerika Serikat, beberapa dekade ke belakang saat kaum Kiri menjadi minoritas di universitas-universitas kita, para profesor Kiri adalah pendukung yang luar biasa atas kebebasan akademik, tetapi dewasa ini, di universitas-universitas di mana kaum Kiri menjadi dominan, mereka memperlihatkan bagaimana diri mereka siap mengambil kebebasan akademik dari setiap orang. (di sana hal ini dikenal sebagai “political-correct”). Hal yang sama akan terjadi dalam konteks kaum Kiri dan teknologi: mereka akan menggunakannya untuk menindas siapapun apabila mereka berhasil mendapatkan kontrol atasnya.

Dalam revolusi-revolusi sebelumnya, kaum Kiri dari tipe yang paling haus kekuasaan, secara berulang, adalah yang pertama melakukan kompromi dengan para revolusioner non-Kiri, sebagaimana dengan kaum Kiri yang memiliki kecenderungan lebih libertarian, dan selanjutnya mengkhianati diri mereka sendiri demi mendapatkan kekuasaan bagi mereka sendiri. Robespierre melakukan hal ini dalam Revolusi Perancis, para Bolshevik melakukannya dalam Revolusi Russia, para komunis melakukannya di Spanyol tahun 1938 dan Castro bersama para pengikutnya melakukannya di Kuba. Merunut pada sejarah ideologi Kiri, akan sangat tolol bagi para revolusioner non-Kiri dewasa ini untuk berkolaborasi dengan kaum Kiri.

Beberapa pemikir telah menunjukkan bahwa ideologi Kiri adalah sejenis agama. Ideologi Kiri memang bukan agama dalam artian baku karena doktrin kaum Kiri tersebut tidaklah berupa hasil dari eksistensi hal-hal supranatural. Tetapi bagi kaum Kiri, ideologi Kiri memainkan sebuah peran psikologis jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dimainkan oleh agama pada para pengikutnya. Kaum Kiri PERLU meyakini ideologi Kiri; hal tersebut memainkan sebuah peranan yang sangat penting dalam ekonomi psikologisnya. Keyakinannya tak akan mudah termodifikasi oleh logika ataupun fakta. Ia memiliki sebuah pendirian yang mendalam bahwa ideologi Kiri secara moral adalah sesuatu yang Benar dengan B huruf besar, dan ia bukan saja merasa memiliki hak, melainkan juga kewajiban untuk menerapkan moralitas Kiri tersebut pada setiap orang. (Tetapi bagaimanapun juga, banyak orang yang kami golongkan sebagai “kaum Kiri” tidak merasa diri mereka Kiri dan tak akan mendeskripsikan sistem yang mereka yakini sebagai ideologi Kiri. Kami menggunakan terminologi “ideologi Kiri” karena kami tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan berbagai keyakinan yang saling berhubungan tersebut, termasuk di dalamnya kaum feminis, pendukung hak bagi kaum homoseks, kaum political-correct, dsb., juga gerakan-gerakannya, dan juga karena gerakan-gerakan tersebut memiliki kaitan yang kuat dengan ideologi Kiri lama).

Ideologi Kiri adalah kekuasaan totaliter. Di manapun juga ideologi Kiri berkuasa, ia cenderung akan menginvasi setiap sudut privat dan memaksakan setiap pikiran ke dalam sebuah cetakan Kiri. Di satu sisi hal ini terjadi karena karakter agama palsu dalam ideologi Kiri; setiap hal yang berbeda dengan keyakinan kaum Kiri adalah sesuatu yang dianggap sebagai Dosa. Lebih pentingnya lagi, ideologi Kiri adalah sebuah kekuasaan totaliter karena dorongan-dorongan kaum Kiri atas kekuasaan. Seorang Kiri berusaha memenuhi kebutuhannya akan kekuasaan melalui pengidentifikasiannya dengan sebuah gerakan sosial dan mereka berusaha untuk melalui proses penguasaannya dengan menolong gerakan di mana ia terlibat untuk meraih dan mendapatkan tujuan-tujuannya. Tetapi tak peduli seberapa jauh gerakan tersebut melangkah dalam meraih tujuan-tujuannya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan, karena aktifismenya adalah aktifitas sampingan. Dengan demikian, motif sesungguhnya seorang Kiri bukanlah tujuan-tujuan ideologi Kiri yang baginya adalah kepalsuan; kenyataannya ia lebih termotifasi oleh sensasi kekuasaan yang ia dapatkan dalam perjuangan dan saat meraih sebuah tujuan sosial. Konsekuensinya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan dengan tujuan-tujuan yang telah tercapai; kebutuhannya akan proses penguasaan mengarahkan dirinya untuk selalu mencapai tujuan-tujuan baru. Seorang Kiri mengingnkan kesempatan yang sama bagi kaum minoritas. Saat hal ini tercapai ia menuntut agar kaum minoritas juga meraih pencapaian yang secara statistik sama. Dan selama setiap orang di sudut pikirannya memiliki sebuah pandangan negatif terhadap beberapa minoritas, seorang Kiri akan berusaha melakukan pendidikan atasnya. Dan kaum etnis minoritas saja tidak cukup; tak seorangpun akan diijinkan untuk memiliki pandangan negatif terhadap homoseksual, orang cacat, orang gemuk, orang tua, orang jelek, dan lain-lainnya. Sekedar memberi informasi pada publik tentang bahayanya merokok; sebuah peringatan juga akan ditempelkan di setiap kemasan rokok. Maka iklan rokok akan dibatasi apabila tidak dilarang sama sekali. Para aktifis tak akan pernah merasa puas sampai seluruh tembakau dianggap barang terlarang, dan bahkan setelahnya alkohol, kemudian makanan cepat saji, dsb. Para aktifis telah memerangi tindak kekerasan terhadap anak, yang tentu memiliki alasan kuat. Tetapi kini mereka tak ingin menghentikan semua bentuk pemukulan. Saat mereka berhasil melakukannya, mereka akan mulai melarang hal lain yang mereka anggap berkaitan, kemudian hal lain lagi dan lainnya lagi. Mereka tak akan pernah terpuaskan hingga mereka memiliki kontrol penuh atas segala macam praktek membesarkan anak. Dan kemudian mereka akan terus bergerak pada hal lain.

Anggap engkau meminta kaum Kiri untuk membuat daftar SEMUA hal yang salah dengan masyarakat, maka anggap engkau telah membuat SEMUA perubahan sosial yang mereka tuntut. Bisa dikatakan bahwa dalam waktu beberapa tahun mayoritas dari mereka akan menemukan sebuah hal baru untuk dikeluhkan, beberapa “kejahatan” sosial untuk dibetulkan karena, sekali lagi, seorang Kiri tidak begitu termotifasi oleh tekanan akibat penyakit-penyakit sosial, melainkan oleh kebutuhan pemuasan dorongan kekuasaannya yang dilakukan dengan cara mengajukan berbagai solusi bagi masyarakat.

Karena beberapa aturan telah ditempatkan dalam pikiran dan kebiasaan mereka melalui sosialisasi tingkat tinggi mereka, banyak kaum Kiri dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, tak dapat meraih kekuasaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang lainnya. Bagi mereka, dorongan atas kekuasaan hanya memiliki satu penyaluran yang dapat diterima secara moral, dan hal tersebut yaitu perjuangan untuk menerapkan moralitas mereka pada setiap orang.

Kaum Kiri, khususnya mereka dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, adalah True Believers (mereka yang benar-benar yakin—Ed.) seperti artian dalam buku Eric Hoffer, “The True Believers”. Tetapi tidak semua True Believer memiliki tipe psikologis yang sama dengan kaum Kiri. Ambil contoh seorang Nazi yang berkeyakinan penuh, jelas ia secara psikologis sangat berbeda dengan seorang Kiri yang berkeyakinan penuh. Karena kapasitas mereka untuk merengkuh sebuah tujuan secara sepihak, para True Believer menjadi unsur yang sangat berguna, bahkan mungkin sangat penting, bagi sebuah gerakan revolusioner. Hal ini menghadirkan sebuah masalah yang mana kami harus nyatakan bahwa kami tak tahu bagaimana cara berurusan dengan hal tersebut. Kami tidak yakin bagaimana memanfaatkan energi-energi yang dimiliki para True Believer tersebut dalam sebuah revolusi melawan teknologi. Saat ini kami hanya dapat berkata bahwa tak ada True Believer yang akan mampu direkrut ke dalam revolusi kecuali komitmen utamanya secara ekslusif adalah penghancuran teknologi. Apabila ia juga berkomitmen pada ideal-ideal lain, ia mungkin akan menggunakan teknologi sebagai alat pencapai ideal lainnya tersebut.

Beberapa pembaca mungkin akan berkata, “Tulisan mengenai ideologi Kiri ini adalah sampah. Aku tahu John dan Jane yang termasuk ke dalam tipe Kiri dan mereka tidak memiliki seluruh kecenderungan totalitarian tersebut.” Memang benar apabila banyak kaum Kiri, bahkan mungkin sejumlah besarnya, adalah merupakan orang-orang yang jujur yang benar-benar percaya dalam mentoleransi nilai-nilai orang lain (dalam beberapa poin) dan tak akan menggunakan metoda-metoda diktatorial dalam meraih tujuan resmi mereka. Kata-kata kami mengenai ideologi Kiri tidak berarti lantas dapat diterapkan pada setiap individual seorang Kiri melainkan untuk mendeskripsikan karakter umum ideologi Kiri sebagai sebuah gerakan. Dan karekter umum atas sebuah gerakan tidak selalu berarti ditentukan oleh sejumlah proporsi dari berbagai jenis orang yang terlibat dalam gerakan tersebut.

Orang-orang yang bangkit meraih berbagai posisi kekuasaan dalam gerakan-gerakan Kiri cenderung menjadi orang-orang Kiri dari tipe-tipe yang paling haus kekuasaan karena orang yang haus akan kekuasaan adalah mereka yang berjuang paling keras untuk mendapatkan berbagai posisi kekuasaan. Sekali saja tipe-tipe yang haus kekuasaan tersebut mendapatkan kontrol atas gerakan, akan banyak kaum Kiri yang terlahir dengan lebih baik yang terang-terangan tidak menyetujui banyak aksi yang dilakukan oleh para pemimpinnya, tetapi tak dapat menghadirkan diri mereka sebagai lawan bagi para pemimpin tersebut. Mereka MEMBUTUHKAN kepercayaan mereka atas gerakan, dan karena mereka tak dapat meninggalkan kepercayaannya maka mereka akan terus berjalan bersama para pemimpin mereka tersebut. Memang benar bahwa BEBERAPA orang Kiri memiliki keberanian untuk melawan kecenderungan-kecenderungan totalitarian yang muncul, tetapi umumnya mereka kalah, karena tipe-tipe yang haus kekuasaan terorganisir dengan lebih baik, lebih tak memiliki rasa kasihan dan Machiavellian serta harus berhati-hati dalam membangun basis kekuasaan yang kuat bagi diri mereka sendiri.

Fenomena-fenomena tersebut tampak dengan jelas di Russia dan beberapa negara yang berhasil diambil alih oleh kaum Kiri. Kemiripannya, sebelum runtuhnya komunisme di Republik Uni Soviet, berbagai tipe kaum Kiri di Barat jarang mengkritisi negara tersebut. Apabila terdesak mereka akan menyatakan bahwa memang Republik Uni Soviet melakukan banyak kesalahan, tetapi mereka juga akan berusaha untuk menemukan berbagai alasan bagi para komunis tersebut dan mulai berbicara mengenai kesalahan-kesalahan di Barat. Mereka selalu menentang perlawanan militer Barat terhadap agresi komunis. Berbagai tipe kaum Kiri di seluruh dunia dengan luar biasa keras, memprotes aksi militer Amerika di Vietnam, tetapi saat Republik uni Soviet menginvasi Afghanistan mereka tak melakukan apapun. Bukan karena menyetujui aksi-aksi Uni Soviet tersebut; melainkan karena kepercayaan Kiri mereka, mereka sekedar tak berani memposisikan diri mereka untuk beroposisi dengan komunisme. Dewasa ini, di universitas-universitas di mana “political correct” menjadi dominan, mungkin akan banyak tipe kaum Kiri yang secara pribadi tidak menyetujui diberlakukannya penindasan atas kebebasan akademik, tetapi mereka tetap membiarkannya terus berjalan.

Dengan demikian fakta bahwa banyak individual-individual kaum Kiri yang secara personal tenang dan merupakan orang yang sangat toleran berarti akan menghindarkan ideologi Kiri yang secara keseluruhan memiliki kecenderungan totalitarian.

Diskusi kami mengenai ideologi Kiri memiliki sebuah kelemahan serius. Masih jauh dari jelas apa yang kami maksud dengan kata “orang Kiri”. Tak banyak yang dapat kami lakukan dalam hal ini. Dewasa ini ideologi Kiri telah terpecah ke dalam sebuah spektrum besar gerakan-gerakan aktifis. Memang tidak semua aktifis gerakan tersebut adalah orang Kiri, dan beberapa aktifis gerakan (environmentalis radikal misalnya) tampaknya merengkuh kedua kepribadian baik dari tipe Kiri maupun kepribadian dari tipe yang sama sekali tidak Kiri, yang sebaiknya dikenali dengan lebih baik dibandingkan harus berkolaborasi dengan para kaum Kiri. Berbagai macam kaum Kiri secara berangsur-angsur melenyap ke dalam berbagai macam kaum non-Kiri dan kami sendiri akan sering terpaksa untuk memutuskan apakah seorang individual yang ditunjuk adalah seorang Kiri atau bukan. Atas apa yang telah kami definisikan secara keseluruhannya, konsepsi kami mengenai ideologi Kiri didefinisikan melalui diskusi-diskusi mengenainya, yang telah kami paparkan dalam artikel ini, dan kami hanya dapat menyarankan para pembaca agar memutuskan sendiri siapa yang termasuk orang Kiri.

Tetapi akan sangat membantu apabila dibuat daftar beberapa kriteria dalam mendiagnosa ideologi Kiri. Kriteria-kriteria tersebut tak dapat diaplikasikan langsung begitu saja. Beberapa individual mungkin akan cocok dengan beberapa kriteria yang bukan Kiri, sementara beberapa orang Kiri mungkin akan sama sekali tak cocok dengan kriteria apapun. Lagi, engkau harus menentukan sendiri.

Seorang Kiri memiliki orientasi menuju kolektifisme skala besar. Ia menekankan kewajiban individual dalam melayani kepentingan masyarakat dan kewajiban masyarakat untuk mengurus individual tersebut. Ia memiliki pandangan negatif terhadap individualisme. Ia seringkali mengambil sebuah alasan yang bernada moralistik. Ia cenderung mendukung kontrol senjata, pendidikan seks dan beberapa metoda pendidikan “yang mencerahkan” secara psikologis, untuk merencanakan, untuk melakukan aksi yang telah disepakati bersama, untuk multikulturalisme. Ia cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan para korban. Ia cenderung menentang kompetisi dan kekerasan, tetapi seringkali ia menemukan alasan-alasan atas beberapa orang Kiri yang melakukan kekerasan. Ia juga gemar menggunakan frasa-frasa yang umum digunakan kaum Kiri seperti “rasisme”, “seksisme”, “homofobia”, “kapitalisme”, “imperialisme”, “neokolonialisme”, “genosida”, “perubahan sosial”, “keadilan sosial”, “tanggung jawab sosial”. Mungkin cara mendiagnosa ciri pembawaan orang Kiri adalah dengan melihat kecenderungannya dalam bersimpati terhadap beberapa gerakan berikut: feminisme, hak-hak bagi kaum homoseksual, hak-hak bagi kelompok etnis, hak-hak bagi penyandang cacat, hak-hak binatang, political-correct. Setiap orang yang dengan sangat kuat bersimpati dengan SELURUH gerakan tersebut dapat dipastikan sebagai seorang Kiri.

Orang-orang Kiri yang lebih berbahaya yaitu mereka yang paling haus kekuasaan, yang seringkali berkarakter arogan atau yang memiliki pendekatan yang dogmatik terhadap ideologi. Bagaimanapun juga, orang-orang Kiri yang paling berbahaya di atas semuanya mungkin adalah tipe-tipe yang telah tersosialisasi paling banyak yang menghindari menunjukkan agresifitas yang berlebihan ataupun mengulang-ulang mengiklankan ideologi Kiri mereka, tetapi mereka bekerja diam-diam dan tak menonjol dalam mempromosikan nilai-nilai kolektifis, teknik-teknik psikologis “yang mencerahkan” dalam mensosialisasikan anak-anak, individual yang sangat tergantung pada sistem, dan begitu selanjutnya. Orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut (crypto-leftist) dalam aksi-aksi praksis yang sejauh ini telah mereka lakukan, kurang lebih sama dengan beberapa tipe borjuis, tetapi berbeda dengan mereka dalam tataran psikologis, ideologi dan motivasi. Borjuis biasa berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem dalam upayanya untuk melindungi gaya hidupnya, atau ia sekedar melakukannya dikarenakan perilakunya yang memang konvensional. Sementara orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem karena ia adalah seorang True Believer dalam ideologi kolektifis. Seorang Kiri tipe ini berbeda dari orang-orang Kiri kebanyakan yang berasal dari tipe yang telah terlalu banyak tersosialisasi, dalam fakta bahwa impuls pemberontakannya lebih lemah dan ia juga jauh lebih tersosialisasikan lagi. Ia berbeda dengan seorang borjuis kebanyakan dalam fakta bahwa ada sebuah kekurangan yang mendalam dalam dirinya yang membuat dirinya merasa perlu untuk mendedikasikan dirinya pada sebuah nilai perjuangan dan membenamkan dirinya sendiri dalam sebuah kolektifitas. Dan mungkin dorongan kekuasaan dalam dirinya (yang telah tersublimasi) yang telah begitu membatu dibandingkan rata-rata kaum borjuis.

(tulisan ini adalah sebuah bab yang dicuplik dari Manifesto Unabomber, ditulis oleh FC dan Ted Kacyinzky)

The Rebel Dark Laughter

Ya, sayangku. Aku telah melakukan kejahatan, sebuah kejahatan yang akan membuatmu ngeri. Aku mengaku padamu dengan semua sinisme yang merupakan ciri khasku, sinisme yang para kanibal nyatakan sebagai karakteristik para penjahat.

Dengar! Malam lainnya aku masih bertugas. Duduk di sebuah kursi, melamun memandangi dinding barak, yang dengan janggalnya disinari lampu redup. Aku memikirkanmu. Aku menatap kenangan air yang biru kehijauan dan mendesah dalam lamunan. Aku mengambil fotomu dari dompetku dan mulai memandanginya, bercerita padamu tentang semua hal yang menyenangkan dalam pikiran dengan kedua mataku. Aku memanggilmu saat itu, dan pasti, bila kau datang, kejahatan itu tidak akan terjadi. Tapi, engkau tidak datang. Aku menyudahi perenungan ini, mendengar suara dengkur pecah dari barak, irama jejak kaki orang yang berpatroli di jalan, dan semua ini seperti percikan es di air yang menggenang. Aku menyalakan rokok dan tiba-tiba, tanpa alasan, aku merasakan kebencian yang hebat, kebencian yang kejam, kepadamu.

Rangkaian keburukan, pikiran permusuhan mengikuti ledakan yang sebenarnya. Aku merokok dengan gugupnya, tanpa ampun aku hancurkan semua bangunan menyenangkan dalam mimpi kita. Ugh! pondok yang bersih! Seorang istri mungil yang setia menunggumu di sore hari! Betapa membosankan, betapa borjuisnya! Lalu, setia! Betapa menyenangkannya kata itu! Siapa yang akan setia hari-hari seperti ini ? Seseorang yang tau bahwa para suster itu salah. Mereka mengatakan kecemburuan itu pantas, tetapi ketika dia hampir menjatuhkan dirinya di kakiku, menangis, memohon dengan sangat padaku untuk mempercayainya.. dan sampai akhirnya dia menyebutkan nama-nama itu.

Meski demikian, dengan bodohnya aku akan mengusirnya, dan berkata, ” Jangan memainkan Lydia Borelli denganku!”

Lalu, fashion!! Selalu menceritakan itu padaku, menceritakan padaku tentang topi, tutup kepala, pita… kebosanan macam apa itu. Itu sudah jelas tanda yang akan selalu berubah-ubah. Apakah dia akan tetap mencintaiku pada akhirnya ? Dapatkan seseorang dengan yakin mengatakan wanita pernah mencintai? Mungkin itu lebih kepada sebuah ambisi, supaya bisa bercerita pada temannya : ” Kamu tahu orang ini dan itu, yang terkenal, dan lainnya.”–” Ya, dan…?”–” Dia mencintaiku!”

Fenomena umum yang terjadi di antara wanita. Tidakkah aku melihatnya beberapa kali? Lalu, kasih sayang yang berlebihan, kekaguman yang mengelilingiku, mungkin semuanya itu hanyalah sandiwara. Bayangkan dia bertanya padaku apakah aku menginginkan dia mati! Lelucon macam apa itu! Apakah dia mengira aku begitu lemah hati hingga aku terharu dengan kata-kata melodramatisnya?

Api rokok membakar jariku, aku membuangnya dengan marah dan beranjak pergi.

Ya, ya.. tanpa keraguan lagi, akan lebih baik untuk mengakhirinya, untuk hidup sendiri tanpa perempuan di bawah kakiku… Bebas, bebas, Aku bosan pikiranku diperbudak.

Aku menyalakan korek dan membakar foto itu. Lalu, aku melihatnya perlahan mulai habis dan menjadi abu. Aku menginjaknya dan tertawa. Tertawa terbahak-bahak.

Barak-barak mendengkur. Seseorang berteriak dalam mimpinya: ” Hei, penjaga, mana minumanku?”