Tampilkan postingan dengan label Die Hard Translator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Die Hard Translator. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Seize The Day

John Zerzan

Perubahan yang sangat cepat dari kehidupan modern lebih buruk dari pada yang dapat kita bayangkan. Metamorfosis semakin menjadi, mengubah tekstur kehidupan, bahkan keseluruhan rasa. Belum begitu lama, hal ini masih berupa modifikasi bagian; sekarang mesinlah yang mengumpulkan kita, merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita, dan tidak ada jalan keluar terhadap logikanya.

Kelanjutan yang stabil hanyalah yang terjadi pada tubuh dan hal ini bahkan menjadi sasaran dalam cara belum pernah terjadi. Menurut Ferudi (1997), kita sekarang menganut budaya gelisah yang mendekati keadaan panik. Wacana sesudah zaman modern menekankan pada artikulasi penderitaan, segi akomodasinya terhadap pentingnya kemajuan, merupakan penghancuran yang sistematik. Keunggulan dari kemunduran penyakit kronis membuat parallel pendinginan dengan erosi permanen terhadap semua yang sehat dan hidup dalam budaya industri. Kemungkinan penyakit tersebut dapat diperlambat pergerakannya, tetapi tidak ada pengobatan sepenuhnya yang dapat dipikirkan dalam konteks ini—yang menempatkan kondisi pada tempat pertama.

Kerinduan kita terhadap komunitas bukanlah hal yang lain selain kematian. McPherson, Smith-Lovin dan Brashears (American Sociological Review 2006) menyampaikan kepada kita 19 tahun yang lalu bahwa cirri khas orang Amerika memiliki 2 teman karib; sekarang jumlahnya tinggal dua. Penelitian nasionalnya juga menunjukkan bahwa setelah jangka waktu tertentu, jumlah orang tanpa satu orang teman pun atau yang percaya dengan diri sendiri meningkat tiga kali lipat. Daftar sensus menunjukkan peningkatan yang tajam pada orang yang lajang, ketika budaya teknologi dengan jaringan penghubung ini berkembang lebih terisolasi, sendiri, dan kosong.

Di Jepang “masyarakat tidak berhubungan sex” (Kitamura 2006) dan tingkat bunuh diri meningkat tajam. Hikikimori atau pengisolasian diri mendapatkan lebih dari berjuta generasi muda yang yang tinggal hanya di dalam kamarnya selama bertahun-tahun. Sementara budaya teknologi berkembang pesat, tingkat stress, depresi dan kekhawatiran pun juga meningkat.

Pertanyaan dan usulan menjadi arus dalam dunia ini hanyalah sebagai realitas, eksternal dan internal, membuat yang masuk akal. Negara kita sekarang, beralih pada bencana, memerlihatkan realitas dalam istilah yang jelas. Kita berada pada keadaan bentrok antara pertanyaan penting baru dan totalitas-peradaban global yang sama sekali tidak menyediakan jawaban. Dunia yang tidak menjanjikan masa depan, tetapi tidak memerlihatkan pengakuannya terhadap fakta ini, membahayakan masa depannya sendiri mengenai kehidupan, kesehatan, dan kemerdekaan dari seluruh makhluk hidup di bumi ini. Peranan peradaban selalu hilang dengan sia-sia di setiap kesempatan yang mereka persiapkan menjelang akhir hidup sebagaimana yang mereka tahu, dengan memilih untuk naik ke puncak dominasi.

Hal ini menjadi jelas bagi sebagian orang bahwa kedalaman krisis yang berkembang yang sama besarnya dengan ketidakmanusiaan bagaikan hanyalah ekosidal, batang pokok lembaga dari peradaban itu sendiri. Penghilangan kepercayaan mengenai masa pencerahan dan modernitas mewakili puncak dari kesalahan yang dikenal dengan nama peradaban. Tidak ada prospek dari golongan ini yang akan menurunkan yang telah didefinisikan dan dirawat, serta nampak seperti pendukung ideologi yang beragam dapat melihatnya sebagai fakta. Jika keruntuhan peradaban telah dimulai, prosesnya sekarang secara tidak resmi tetapi secara luas diperkiran bahwa mungkin merupakan dasar dari penolakan yang tersebar luas dari keadaan tertinggal dari totalitas yang memerintah. Memang, ketegaran dan penyangkalan mungkin mengatur tingkat perubahan budaya pada skala yang tidak dapat diprediksi, yang dapat dibuka dengan cepat.

Tentu saja, paradigma berubah dari kubu ini, tetapi sistem yang mudah diserang dan bercacat yang fatal ini tidak dapat dielakkan. Kemungkinan utama lainnya yaitu terlalu banyak masyarakat, dalam alasan yang sama (ketakutan, kelambanan, ketidakmampuan pabrik, dll) secara pasif menerima realita sebagai hal tersebut, sampai semuanya terlambat untuk berbuat sesuatu selain mencoba berhubungan dengan kegagalan. Hal ini patut diperhatikan bahwa kesadaran yang berkembang mengenai hal yang berubah menjadi hal yang salah, bagaimanapun dalam taraf permulaan dan beda dari yang lain, didukung oleh kedalaman, ketidaksenangan serta pada banyak kasus merupakan penderitaan yang akut. Keadaan inilah dimana kesempatan terletak. Dari perspektif baru yang berkembang inilah, kita menemukan bagaimana menghadapi apa yang sedang kita hadapi sebagai manusia, dan memindahkan rintangan pada tingakat kelangsungan hidup. Sekarang telah tiba masanya tuduhan besar-besaran terhadap peradaban dan massa masyarakat. Hal yang memungkinkan bahwa, dalam mode yang beragam, beberapa keputusan dapat melepaskan mesin pembunuh sebelum penghancuran dan penjinakkan menguasai semua hal.

Walaupun apa yang sebelumnya membantu kita dalam memahami keadaan terakhir kita, kita sekarang hidup dalam penundukkan yang nyata, pada skala yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Pembungkus teknologi – dunia yang menyebar dengan cepat menganjurkan pergerakan pada kontrol yang lebih dalam dari segala aspek kehidupan kita. Penaksiran Adorno pada tahun 1960 terbukti sekarang: “Pada akhirnya sistem akan mencapai titik - kata yang menyediakan isyarat sosial yaitu “integrasi” yang mana kepercayaan universal dari segala pergerakan dari semua pergerakan lainnya membuat perbincangan mengenai hubungan sebab akibat menjadi kuno. Merupakan hal yang omong kosong mencari penyebabnya dalam masyarakat monolitik. Hanya masyarakat itu sendiri yang menjadi penyebabnya.” (Negative Dialectics,p. 267).

Totalitas menyerap setiap “alternatif” dan terlihat sebagai hal yang tidak dapat diubah. Hal ini merupakan pembenaran dan ideologinya sendiri. Penolakan kita, keinginan kita untuk membongkar semua hal ini, merupakan pertemuan dengan fungsi argumen dan protes yang lebih sedikit. Respon paling bawah lebih kepada “Yes, pandangan anda bagus, betul, valid; tetapi kenyataan ini tidak akan menghilang begitu saja.

Tidak ada dari kemenangan terhadap hal yang tak berperikemanusiaan membuat dunia lebih aman, bukan hanya bagi spesies kita. Semua revolusi diperkuat hanya bagi mereka yang mendominasi dengan memperbaharuinya. Meskipun peningkatan dan penurunan bujukan politik yang beragam, hal ini selalu menciptakan kemenangan; sistem teknologi tidak mundur, mereka hanya meningkat. Kita telah bebas atau sejauh ini otonomi semenjak Mesin menuntut untuk berfungsi.

Sementara itu, penilaian idiotik berlanjut. “Kita seharusnya bebas menggunakan teknologi spesifik sebagai alat tanpa mengadopsi teknologi sebagai gaya hidup.” (Valovic 2000). “Dunia dibentuk melalui teknologi digital nyata pada tingkat yang kita pilih untuk memainkan permainan mereka.” (Downs 2005).

Sama dengan kekuatan mencengkram, dan beberapa ilusi mengenai bagaimana modernitas bekerja, Mesin menghadapi prospek yang makin buruk. Hal ini membentur fakta bahwa mereka yang mengatur organisasi dominan dari kehidupan tidaklah berusaha menjawab atau memproyeksikan hal positif. “Isu” yang paling menekan contohnya Global Warming diabaikan, dan propaganda mengenai Komunitas (pasar dengan pemisahan), Kebebasan (pengawasan total masyarakat), mimpi Amerika sangatlah salah bahwa hal ini tidak dapat diharapkan untuk ditangani secara serius.

Seperti yang dikemukakan Sahlin (1977), semakin rumit suatu masyarakat, semakin kecil kemungkinan mereka bisa menghadapi tantangan. Kekhawatiran umum dari setiap Negara adalah pada pemeliharaan; karena ketika kapasitas ini gagal, begitu pula kesempatan untuk negara bertahan. Ketika janji keamanan menurun, begitu pun dukungan yang nyata hilang. Banyak penelitian mengikutsertakan beragam ekosistem yang terlihat menderita lebih mendadak oleh malapetaka, dibandingkan keadaan biasa, yang merupakan penurunan yang dapat diprediksi. Peranan mekanismenya mungkin hanya menjadi subjek bagi perkembangan parallel.

Pada awalnya terdapat 2 ruangan untuk mengatur siasat. Pergerakan peradaban ditemani oleh katup yang aman: garis perbatasan. Ekspansi dengan skala yang besar dari kerajaan Romawi Suci ke arah timur selama abad 12-14, penyerbuan dari Dunia Baru sesudah 1500, pergerakan kearah barat di Amerika Utara selama akhir abad 19. Tetapi sistemnya menjadi “hipotek dalam menyusun pengumpulan berdasarkan cara tersebut” (Sahlins). Kita merupakan sandera, dan begitu pula keseluruhan rakitan hirarki. Keseluruhan sistem sibuk, selalu berubah terus-menerus; transaksi terjadi pada angka yang cepat pergerakannya. Kita telah sampai pada tahap dimana struktur bersandar pada hamper keseluruhan serangan yang lebih atau kurangnya diluar kontrolnya itu sendiri. Contoh utama yaitu pertolongan sebenarnya yang diberikan oleh rezim beraliran kiri di Amerika Selatan. Isunya tidak selalu berupa hasil dari ekonomi neo-liberal, tetapi kesuksesan aliran kiri ini dalam kuasanya terhadap pembangunan ibu kotanya selanjutnya, serta kelanjutan pribumi dalam orbitnya.

Tetapi taktik ini tidaklah lebih berat dibandingkan fakta dari keseluruhan kekerasan yang menempatkan masa depan kota teknologi pada resiko kematian. Nama dari krisis tersebut adalah modernitas itu sendiri, kesatuannya, berat kumulatifnya. Rezim apapun sekarang merupakan situasi dimana setiap “solusi” hanya bergantung pada masalah yang melanda. Teknologi yang lebih dan forsa koersif merupakan satu-satunya sumber untuk memaksanya kembali. “Sisi gelap” dari kemajuan memerlihatkan sebagai wajah yang pasti dari masa modern.

Para teoretis seperti Giddens dan Beck mengakui bahwa batasan luar dari modernitas telah dicapai, sehingga bencana tersebut sekarang merupakan karakteristik laten dari masyarakat. Dan juga mereka meminta pengharapan, tanpa memprediksi perubahan dasar, bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Beck contohnya, mencari demokratisasi dari industrialisme dan perubahan tekhnologi – menghindar dengan hati-hati terhadap pertanyaan mengenai mengapa hal ini tidak pernah terjadi.

Tidak ada perdamaian, tidak ada pula akhir yang bahagia dalam totalitas ini, dan secara transparan hal ini salah untuk diklaim sebaliknya. Sejarah terlihat menghapuskan kemungkinan penyelamatan; hal ini tentu saja merusak apa yang sudah dilalui sebagai pemikiran kritis. Pelajarannya menekankan seberapa banyak yang harus diubah untuk membangun semangat yang baru dan asli. Tidak ada waktu untuk memilih; bidang atau dasar pergantian kehidupan tidak dapat diketahui dengan banyak cara, tanpa drama, tetapi pada efek yang sangat luas. Jika solusinya terdapat pada teknologi, hal ini hanyalah memperkuat peran dari dominasi modern; bagian utama dari tantangan yang menghadapi kita.

Modernitas telah menurunkan bidang yang mengizinkan aksi etis, memotong hasil yang berpotensi berhasil. Tetapi dalam kenyataan, menyerang kita dalam puncak krisis, menjadi lebih dekat dan bertubi-tubi. Berpikirlah mengenai semuanya, karena situasi ini merusak segalanya yang kita inginkan. Kita menyadari bahwa hal ini memang terserah pada kita. Bahkan kemungkinan keruntuhan dari struktur teknologi global seharusnya tidak memikat kita untuk jauh dari pengakuan mengenai potensi peran kita, tanggung jawab kita untuk menghentikan mesin penghancur. Kepasifan, seperti penaklukan sikap, tidak akan membawa pada pelepasan yang mendatang.

Kita semua terluka, dan secara bertentangan, pengasingan ini menjadi dasar dari peguyuban. Pertemuan dengan hal yang membuat trauma mungkin terbentuk, pertalian spiritual menuntut pemulihan. Karena kita masih bisa merasa akut, para penguasa kita tidaklah dapat beristirahat semudah yang kita lakukan. Kebutuhan kita terhadapa penyembuhan berarti bahwa sebuah penggulingan harus terjadi. Hal itu sendiri dapat selanjutnya mengobati. Hal seperti “lanjutkanlah”, dapat menciptakan malapetaka di setiap level. Masyarakat mencari tahu: bahwa hal yang sedang terjadi, kenyataannya, malapetaka.

Mellisa Holbrook Pierson (The Place You Love is Gone 2006) mengekspresikannya sebagai berikut: “Tiba-tiba hal itu menjadi sukses, yang anehnya sangat mudah untuk dipahami. Tidak dapat dielakkan bahwa kita menghadapi Big Goodbye. Hal ini resmi! Hal yang tidak mungkin patutlah untuk dipikirkan. Hal ini akhirnya nampak, setelah semua sejarah manusia yang ada dibelakang kita. Dalam lubang yang ketinggalan dari jiwa yang menderita anda merasakannya tiba, kehilangan rumah, lebih besar dari penyebab seseorang mengeluarkan air mata. Milik anda dan saya, tangisan pribadi, akan berkumpul menjadi tangisan massal….”

Kesengsaraan. Penyesalan. Inilah waktunya bagi kita untuk kembali ke masa dimana kita tidak pernah menyerah untuk menjadi sesuatu. “Terus meregangkan pada batas elastis sampai tidak bisa dibelokkan lagi,” dalam frasa Spangler.

Pemikiran masa pencerahan, sejalan dengan revolusi industri, dimulai pada akhir abad 18 di Eropa, saat modernitas dimulai. Kita menjanjikan kemerdekaan berdasarkan kontrol kesadaran terhadap takdir kita. Tetapi masa pencerahan mengklaim bahwa hal tersebut belumlah direalisasikan, dan keseluruhan proyek berubah menjadi penaklukan diri sendiri. Elemen dasarnya termasuk alasan, hak universal dan hukum mengenai sains dirancang secara sadar untuk membuang muatan pra-ilmiah, jenis mistik mengenai pengetahuan. Gotong royong yang mendukung cara hidup dikorbankan dalam nama kesatuan dan keseragaman, pemaksaan pola hukum terhadap kehidupan. Kant menekankan pada kemerdekaan terhadap aksi moral yang merupakan akar dari konteks ini, sejalan dengan program ahli ensiklopedi Perancis untuk mengganti keahlian tradisional dengan sistem teknologi yang terkini. Kant, yang sifatnya tidak lebih suci dari kategori pentingnya, dengan baik dibandingkan dengan universitas modern pada mesin industrial dan produknya.

Beragam pencerahan memerlihatkan perdebatan mengenai pro dan kontra mengenai kemunculan perkembangan modern, dan kata-kata ini nyatanya tidak dapat dianggap sebagai topik pencerahan. Bagaimanapun, hal ini mungkin berhasil untuk menyimpan sejarah penting dalam pikiran: kelahiran yang serempak dari pemikiran progresif modern dan produksi massal. Kecenderungan dari penghargaan ini dilihat oleh Min Lin (2001): “Merahasiakan keaslian sosial dari wacana kognitif dalam rangka membenarkan atau mensahkan posisinya dengan menguniversalkan dasar intelektual dan menciptakan kuasi-transendan suci baru.”

Modernitas selalu berusaha melampaui dirinya sendiri pada bagian yang berbeda, bergerak meluncur seperti hendak menemukan kembali keseimbangan yang telah lama hilang. Ini merupakan tekad untuk mengubah masa depan.

Dengan penekanan modernitas terhadap kebebasan, lembaga pencerahan modern memiliki tidaklah memiliki fakta-fakta kesuksesan selain hanya penyesuaian. Lyotard (1991) mengumpulkan keseluruhan hasil: “Kebiadapan yang baru, buta huruf dan pemiskinan bahasa, kemiskinan yang baru, perubahan bentuk opini tanpa ampun oleh media, perasaan tidak menyesal dari pikiran, serta keusangan jiwa.” Mengumpulkan massa, menstandardisasikan mode, dari setiap sendi kehidupan, dengan kejam telah menghidupkan kembali program pengaturan yang sesungguhnya dari modernitas.

“Kapitalisme tidaklah menciptakan dunia kita; tetapi mesinlah yang melakukannya. Penelitian Painstaking merancang pembuktian dari pertentangan yang tertimbun secara nyata dibawah cetakan yang berton-ton jumlahnya.” (Ellul 1964). Tidak dapat dipungkiri adanya pemusatan peran kelas, tetapi sekedar mengingatkan kita bahwa pembagian masyarakat dimulai dengan pembagian tenaga kerja. Pembagian itu sendiri mengarah langsung kepada pembagian masyarakat. Pembagian tenaga kerja merupakan tenaga kerja yang dibagi. Memahami apa karakterisasi dari kehidupan modern tidaklah lebih jauh dari usaha untuk mengetahui peranan teknologi dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti yang sudah ada. Lyotard (1991) menilai bahwa “teknologi tidaklah ditemukan oleh manusia. Tetapi oleh yang mengetahui jalan.

Dalam Faust Goethe, tragedi awal dari perkembangan industri, melukiskan horror terdalamnya sebagai bendungan dari tujuannya yang mulia. Pembangun yang luar biasa dari Faust ikut serta dalam gerakan endemik ke arah modernisasi, yang dapat mengancam jejak perbedaan dalam jumlah pergerakannya.

Kita berfungsi dalam bidang yang lebih homogen, dasar yang selalu menjalani bentuk utuh untuk mengenalkan jaringan teknologi global yang tunggal. Merupakan hal yang mungkin untuk menghindari kesimpulan ini dengan tetap fokus pada permukaannya, pada apa yang diizinkan nyata pada batas. Beberapa melihat Indymedia sebagai kemenangan penting dari desentralisasi, dan software gratis sebagai tuntutan yang radikal. Sikap ini mengabaikan dasar industri dari penggunaan dan pengembangan teknologi yang canggih. Segala “Alat yang menakjubkan” termasuk telepon selular yang beracun dan ada di mana-mana, lebih terhubung pada bencana ekosistem dari industrialisasi di Cina dan India, contohnya, dari pada pembersihan, halaman licin dari majalah Weired. Sang penyelamat mengklaim Weird luar biasa sebagai keputusan mereka, yang merupakan fantasi bersifat kekanak-kanakan. Penganutnya hanya dapat dipertahankan pada khayalan hebat yang berarti pembutaan dengan sengaja tidak hanya pada penghancuran sistematik teknologi alam, tetapi juga kerugian masyarakat global juga termasuk: hidup dipenuhi dengan racun, pekerjaan yang menjemukan, serta kecelakaan pabrik.

Sekarang muncul fenomena protes melawan seluruh hal yang menyangkut sistem universal, seperti “makanan yang lambat,” kota yang lambat, “jalan yang lambat”. Masyarakat lebih memilih kebutuhan yang memberikan jedah dan tidak melahap susunan kehidupan. Tetapi penurunan yang sebenarnya mengambil kecepatan. Hanyalah perubahan radikal yang merintangi lintasannya. Lebih banyak misil di banyak negara nyata merupakan bagian lain dari pergerakan umum dari teknologi yang penting. Momok dari kematian massa merupakan hasil yang sempurna, kondisi modernitas, sementara manusia berada pada kondisi teknologi dari subjeknya. Kita merupakan kendaraan mesin Mega, bukanlah pewaris, menjadi sandera dari setiap lompatan ke depan. Kondisi manusia teknologi menjadi nampak pada akhirnya. Tidak ada yang dapat diubah sampai dasar dari teknologi diubah, yaitu dihapuskan.

Kondisi kita diperkuat oleh mereka yang ada – pada mode klasik sesudah masa modern – dimana alam / budaya merupakan binarisme yang salah. Dunia yang alami diusingkan, diratakan, pada tegangan dari logika penyerahan yang mana alam selalu menjadi budaya, selalu tersedia untuk penaklukan. Koert van Mensvoort dalam “Exploring Next Nature” (2005) membongkar dominasi dari logika alam, yang begitu popular: “Alam kita yang selanjutnya akan terdiri dari apa yang seharusnya menjadi kebudayaan.” Selamat tinggal, realitas yang tidak ada. Setelah semuanya itu dia dengan gembira menyatakan bahwa alam berubah bersama dengan kita.

Hal ini merupakan kehilangan bagi konsep alam – dan bukan hanya konsepnya! Tetapi tanda “alam” pasti menikmati kepopuleran, ketika substansinya dihancurkan: “eksotik” produk budaya dunia ketiga, bahan-bahan makanan alami, dsb. Sayangnya, pengalaman alami berhubungan dengan pengalaman alam. Ketika yang terakhir dikurangi menjadi kehadiran yang tidak substansial, penciptanya dilecehkan. Paul Berkett (2006) menempatkan Marx dan Engels pada efek dengan masyarakat komunisme yang “tidak hanya akan merasakan tetapi juga mengetahui keutuhannya dengan alam,” komunisme itu merupakan “kesatuan manusia dengan alam.” Penanggulangan teknologi industri sebaliknya – merupakan sampah dari penciptanya. Mengenyampingkan orientasi komunisme, seberapa banyakkah ketidaksetujuan yang tersisa dengan syair Marx pada produksi massa?

Pengabaian terhadap pemahaman Freud dalam Civilization and its Discontents merupakan saran yang mendalam, “perasaan bersalah yang ditimbulkan oleh peradaban” menyebabkan ketidakpuasan dan rasa yang tidak enak. Adorno (1966) melihat bahwa hal ini relevan pada “bencana yang akan terjadi merupakan perkiraan dari bencana irasional pada awalnya.

Aslinya, kualitatif, menyampaikan kegagalan dalam hidup terhadap planet ini yang merupakan perencanaan gerakan peradaban. Masa pencerahan, -- sama seperti abad Axial agama dunia 200 tahun sebelumnya – menyiapkan transedensi untuk level berikutnya dari dominasi, sebuah dukungan yang sangat dibutuhkan untuk modernitas industri. Tetapi dimanakah sekarang seseorang mendapatkan sumber transendansi, membenarkan kerangka proses untuk level terbaru dari perkembangan yang serakah? Sungguh suatu dunia baru dari ide dan nilai dapat dipikirkan pada pengesahan semua reruntuhan yang mencakup modernitas terakhir? Hanyalah sistem yang memiliki kelembaman; tidak ada jawaban, dan juga masa depan.

Sementara itu, konteks kita adalah pada keramahan atas ketidakpastian. Tambatan stabilitas dari hari ke hari mencadi lambat, semnjak sistem mulai menampilkan kelemahan yang ganda. Ketika tidak lagi dapat menjamin keamanannya, maka hal ini akan berakhir dengan cepat.

Milik kita merupakan tempat yang menguntungkan sejarah yang tidak ada bandingannya. Kita dapat dengan mudah merengkuh sejarah dari penyakit peradaban universal. Pemahaman ini kemungkinan merupakan sinyal kekuatan yang memungkinkan pergantian paradigma, satu-satunya yang dapat sejalan dengan peradaban dan membebaskan kita dari keinginan untuk mendominasi. Tantangan yang berani, pada akhirnya; merupakan pengingatan kembali terhadap anak-anak yang mulai berbicara dengan wajah penyangkalan. Sang penguasa tidak memakai apapun; kata-katanya omong kosong.

Manually Translated | Konspirasi tinjabersayap [The Die Hardest Translator Of The World] (Januai 2010)

Tak Adakah Jalan Keluar?

John Zerzan

Agrikultur mengakhiri suatu periode panjang dari keberadaan umat manusia yang secara luas (keberadaan umat manusia-penj) ditandai dengan kebebasan/kemerdekaan dari kerja, alam yang tidak dieksploitasi, kesetaraan dan otonomi gender, serta tidak adanya kekerasan yang terorganisir. Agrikultur mengambil banyak dari bumi ketimbang apa yang ia berikan pada bumi dan ini merupakan pondasi dari kepemilikan pribadi. Agrikultur melingkupi kontrol, ekploitasi, pembangunan hirarki dan kebencian. Chellis Glendinning (1994) menggambarkan agrikultur sebagai suatu ‘trauma’ yang telah merusak jiwa manusia, kehidupan sosial, dan biosfer.

Namun agrikultur/domestikasi tidaklah muncul dengan tiba-tiba, 10.000 silam. Kemungkinan terdekatnya, adalah suatu titik kulminasi dari adaptasi yang sangat lambat pada pembagian kerja dan spesialisasi yang dimulai secara sungguh-sungguh di zaman Paleolitik Tertinggi, kira-kira 40.000 tahun yang lalu. Proses semacam ini adalah apa yang dibalik Adorno dan Horkheimer istilahkan sebagai “instrumental reason” dalam “Dialektika Pencerahan” mereka. Meskipun masih dipuji sebagai prakondisi bagi “objektivitas,” alasan manusia tidaklah netral. Entah bagaimana hal itu berubah, dengan dampak yang menghancurkan: alasan kita memenjarakan sisi kemanusian kita yang sebenarnya saat menghancurkan alam. Bagaimana cara bertanggung-jawab pada kenyataan bahwa aktifitas manusia telah menjadi sangat bertentangan dengan manusia itu sendiri, seperti yang dilakukannya pada semua spesies di dunia? Sesuatu telah mulai membawa kita ke arah negatif sebelum agrikultur, stratifikasi kelas, negara dan industrialisme menginstitusionalkan kesalahannya.

Hak ini adalah alasan yang salah, yang menginterpretasi realitas sebagai penggabungan atau peleburan instrumen-instrumen, sumber daya, dan alat-alat, membuat dominasi menjadi sesuatu yang lebih buruk yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sama halnya dengan teknologi, yang alasannya berreinkarnasi atau termaterialkan setiap saat, alasan mengenai “netralitas’ teknologi telah salah dari awal. Sementara itu, kita belajar untuk menerima kondisi kita saat ini. Ini adalah ‘sifat manusia’ yang “kreatif,” masuk ke dalam bagian yang terus berulang.

Pembagian kerja memberikan kekuasaan yang efektif bagi beberapa orang, pada saat yang sama membatasi atau mereduksi segala cakupannya. Hal ini bisa dilihat dalam pembuatan seni yang sama halnya seperti dalam inovasi-inovasi teknologikal. Kerja yang sebenarnya dari para individu-individu telah jelas terlihat pada seni atau pun ukiran gua yang paling awal, dan spesialisasi keterampilan adalah suatu aspek esensial dari perkembangan masyarakat yang ‘kompleks’ (atau bisa dikatakan terstratifikasi) saat ini. Penetapan peran-peran memudahkan suatu pemutusan kualitatif pada bentuk sosial manusia yang sudah berlangsung sejak lama, yang jelas-jelas terjadi hanya dengan periode yang singkat. Setelah dua atau tiga juta tahun mode kehidupan egalitarian foraging (Pemburu dan Pengumpul), hanya dalam 10.000 tahun, secara drastis menurun menjadi cara hidup yang beradab. Sejak saat itu, percepatan kerusakan bagian sosial dan ekologikal terus menerus terjadi.

Hal ini juga menarik bahwa seberapa lengkapkah pengalaman sebuah peradaban pada tingkatan pertamanya. K. Aslihan Yener’s dalam Domestication of Metal (2000) mendiskusikan industri yang ‘kompleks’ dalam peradaban awal manusia, pada zaman perunggu awal. Ia menggambarkan organisasi serta manajemen pada tambang dan peleburan timah di Anatolia, yang dimulai pada 8.000 tahun sebelum masehi. Bukti arkeologikal ini jelas menunjukkan bahwa erosi, polusi dan penebangan hutan merupakan konsekuensi yang logis, seperti yang terjadi pada awal peradaban yang banyak terdapat di Timur-Tengah.

Dengan peradaban, bagaimana hal itu adalah bagaimana ia harus selalu terjadi. Novel Russell Hoban’s (1980), Riddley Walker, menyediakan analisis yang tajam dalam logika peradaban. Narator dalam novel ini mengidentifikasi Apa yang biasa disebut kemajuan sebagai kekuasaan:
“Ia muncul dihadapanku dan aku tahu bahwa kekuasaannya takkan pernah menghilang. Ia ada dan akan terjadi. Kekuasaan menginginkan anda mendatanginya dengan kekuasaan. Kekuasaan menginginkan apa yang pernah terjadi untuk terjadi lagi. Kekuasaan menginginkan segala hal yang bergerak ke depan.”

Sifat dari proyek peradaban sudah jelas dari awalnya. Semenjak kemunculan produk agrikultur yang sangat cepat, intensifikasi dominasi menjadi mantap dan pasti. Hal ini menjelaskan bahwa monumen pertama dari manusia adalah bersamaan dengan tanda pertama dari domestikasi (R. Bradley dalam Mither, 1998). Linearitas yang menyedihkan dari penghancuran peradaban dunia alami telah disela oleh gejala dari penghancuran diri sendiri dalam bidang sosial, dalam bentuk peperangan. Dan ketika kita mengingat kembali mengenai B.D. Smith (1995) bahwa domestikasi adalah “penciptaan bentuk baru dari tumbuhan dan hewan,” hal ini menjadi jelas bahwa keahlian teknik genetik dan kloning hanyalah merupakan penyimpangan aneh dari norma.

Perbandingan dengan kehidupan beribu generasi Pemburu-Peramu merupakan hal yang mengejutkan. Tidak ada perselisihan bahwa para leluhur ini berbagi dalam pusat kehidupan mereka. Melalui literatur antropologi, berbagi dan merasa sama dalam hak merupakan sinonim dengan organisasi sosial pemburu-peramu, dikarakterisasikan sebagai gerombolan dari 50 atau beberapa orang. Dengan ketidakhadiran mediasi atau kewenangan politik, masyarakat menikmati pertalian ekspresif yang kuat berhadapan satu sama lainnya dan dalam kerukunan bersama alam.
Hewlett dan Lamb (2000) mengeksplorasi tingkat kepercayaan dan kasih dalam kelompok pemburu-peramu Aka di Afrika Tengah. Kedekatan fisik dan emosional antara anak-anak dan remaja Aka, merupakan hubungan yang erat dalam orientasi mereka terhadap dunia. Sebaliknya, masyarakat Aka melihat lingkungan mereka sebagai hal yang baik dan mendukung, karena ikatan yang tidak tertutup di antara mereka. Colin Turnbull mengamati realitas yang serupa dengan Mbuti di Afrika, yang biasa menujukan salamnya pada “Hutan Ibu, Hutan Ayah.”

Agrikultur merupakan model pertama dari segala bentuk otoritarianisme sistematik yang mengikutinya, termasuk kapitalisme dan penginisiasian penaklukan terhadap wanita. Perkampungan pertanian awal memiliki jumlah “sebanyak 400 orang” (Mithen, 2000). Kita tahu bahwa perkembangan populasi bukanlah merupakan penyebab dari agrikultur tetapi merupakan hasil darinya; saran-saran semacam ini menjadi dasar dinamis dalam masalah populasi. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat diorganisir pada jumlah manusia yang betul-betul merasa menjadi korban bagi kepentingan domestikasi. Hal ini mungkin berarti bahwa kita hanya bisa menyelesaikan masalah kelebihan penduduk dengan menghapus akar permasalahan yang menjadi dasar pemisah satu dengan lainnya. Dengan datangnya domestikasi, reproduksi tidak hanya dihargai secara ekonomi; tetapi juga ditawari kompensasi atau konsolasi dari apa yang telah dihapuskan oleh peradaban.

Di tengah-tengah pen-standarisasi-an, efek disipliner dari sistem teknologi dan kapital masa kini, kita dihadapkan pada rintangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya tentang imaji dan representasi. Simbol telah secara luas berkumpul dengan yang nyata dan yang langsung, baik dalam interaksi perseorangan setiap hari dan dalam percepatan akan punahnya alam. Hal ini secara umum diterima sebagai hal yang mutlak, terutama semenjak menerima diktat kebebasan bahwa pembuatan simbol merupakan hal yang utama, melukiskan kualitas dari manusia. Kita belajar semenjak kecil bahwa semua tingkah laku dan budaya bergantung pada manipulasi simbol; karakteristik inilah yang membedakan kita dari hewan.

Tetapi melihat lebih dekat pada Homo di antara kita, di banyak milenia menantang “kewajaran” dari dominasi simbol dalam hidup kita. New discoveries membuat berita utama dengan frekuensi yang meningkat. Para arkeolog menemukan bahwa lebih dari jutaan tahun yang lalu, manusia sama pintarnya dengan kita–disamping itu fakta bahwa bukti paling awal pada penanggalan aktifitas simbolik (arca, pahatan di gua, artefak, catatan waktu, dll) tercatat hanya pada 40.000 tahun yang lalu. Manusia menggunakan api untuk memasak sekitar 1.9 juta tahun yang lalu; dan membangun serta berlayar dengan kapal sekitar 800.000 tahun yang lalu!

Orang-orang ini pasti sangatlah cerdas; mereka tidaklah meninggalkan jejak nyata dari ide-ide simbolik. Demikian juga walau pun nenek moyang kita semenjak jutaan tahun yang lalu memiliki I.Q. untuk memperbudak sesamanya dan menghancurkan planet, tetapi mereka menahan diri untuk melakukan hal tersebut. peradaban menganjurkan membuat usaha bersama untuk menemukan bukti bahwa simbol digunakan pada awal masa, yang diparalelkan dengan usaha yang gagal dalam dekade terkini untuk menemukan bukti yang akan menjatuhkan paradigma baru antropologi mengenai harmonisasi dan keadaan yang baik dari pra-agrikultur. Sejauh ini, penelitian mereka belum membuahkan hasil.

Terdapat celah waktu yang cukup besar antara sinyal kapasitas mental dan sinyal simbolis. Ketidakcocokan ini membuat keraguan yang serius pada kecakapan definisi manusia sebagai pembuat simbol. Kecocokannya antara permulaan gambaran dan permulaan dari apa yang tidak sehat mengenai spesies kita terlihat lebih penting. Pertanyaan mendasar lebih banyak merumuskan tentang diri mereka sendiri.

Seperti satu pertanyaan yang menyangkut gambaran alam. Foucault memerlihatkan bahwa penggambaran selalu mengikutsertakan kekuasaan. Mungkin terdapat hubungan antara representasi dan kekuasaan yang tidak seimbang tercipta ketika pembagian kerja mengambil alih aktifitas manusia. Pada kasus yang sama, sangat susah untuk melihat sistem sosial yang besar muncul dalam ketiadaan budaya simbolis. Pada tahap minimum, hal ini memang tak dapat dipisahkan.

Jack Goody (1997) menyebutnya “penekanan terus-menerus pada representasi”. Sejalan dengan impuls yang mudah dalam berkomunikasi, apakah tidak ada hal positif yang juga terjadi? Pada seluruh generasi sebelum peradaban, dongeng menguasai pikiran Pemburu-peramu–termasuk dalam berkomunikasi–akan tetapi mereka tidak menemukan simbol mengenai hal tersebut. Untuk mewakili realitas termasuk pergerakan menuju kesempurnaan, sistem yang tertutup, yang mana bahasa merupakan contoh yang nyata dan mungkin contoh paling asli. Dari mana hal ini akan menciptakan sistem, menamakannya serta menghitungnya? Mengapa dimensi yang mencurigakan ini terlihat seperti alasan instrumental, dengan inti yang secara esensial mendominasi?

Bahasa secara rutin dilukiskan sebagai hal yang alami dan juga merupakan bagian yang tak dapat dielakkan dari evolusi kita. Seperti pembagian tenaga kerja, ritual, domestikasi dan agama? Menyelesaikan kemajuan dan kita dapat melihat akhir dari biosfer serta alienasi total terlihat seperti “alami” dan “mutlak”. Hal ini dapat merupakan jalan keluar dari tatanan simbolik yaitu pertanyaan yang menjadi penekanan.

“Pada awalnya adalah kata”–pengumpulan ranah simbolik. Setelah kebebasan dalam Taman Eden dicabut, maka Adam menamakan hewan dengan nama hewan. Dengan cara yang sama, Plato mempertahankan bahwa ‘kata’ yang menciptakan benda. Terdapat satu momen penyesuaian linguistik, dan semenjak itu dalam mengategorikan bingkainya ditentukan dari seleruh fenomena. Penyesuaian ini berusaha untuk mengesampingkan “dosa yang sebenarnya” dari bahasa, yang merupakan pemisahan antara bercakap dan dunia, kata-kata dan benda-benda.
Banyak bahasa dimulai dengan kayanya kata kerja, tetapi secara gradual tidak dilaksanakan melalui banyaknya imperialisme dari kata benda. Hal ini memparalelkan pergerakan pada pembendaan bumi dengan lebih mantap, berfokus pada objek dan tujuan-tujuan sebagai pengeluaran dari proses. Dengan gaya yang sama, naturalisme yang hidup dari seni pahatan di dinding gua memberikan jalan bagi kemiskinan, penyesuaian estetika. Pada kedua kasus, deal simboliknya dipermanis dengan janji kesempurnaan yang sangat menggiurkan, tetapi pada setiap kasus, hasil dalam jangka panjangnya adalah mematikan. Mode-mode simbolis mungkin dimulai dengan kesegaran dan vitalitas, tetapi pada akhirnya memunculkan kembali kemelaratan mereka yang sebenarnya, logika yang sangat tua dari mereka.

Kualitas bawaan ketajaman sensual dari janin manusia mengalami atrofia semenjak mereka tumbuh dan berkembang dalam interaksi dengan budaya simbolik yang berlanjut pada infiltrasi dan monopoli pada kebanyakan aspek dari kehidupan kita. Beberapa yang tersisa yang tidak termediasi, sebenarnya masih bertahan. Permainan cinta, hubungan kedekatan, tercelup dalam sifat alami, serta pengalaman kelahiran dan kematian membangkitkan pikiran sehat dan intelegensi kita, menstimulasi suatu kelaparan yang tidak biasa (tak dikenal). Kita merindukan sesuatu dibandingkan kekurangan, dunia tiruan dari representasi, dengan with its second-hand pallor.

Komunikasi masih terbuka pada apa yang menghidupkan kilasan terdahulu, secara non-verbal, antar manusia. Segala kemarahan, saluran-saluran yang terkondisikan mungkin akan dibuang, karena kita tidak bisa hidup dengan apa yang tersedia. Sebagaimana tingkatan penderitaan, kehilangan, dan kekosongan meningkat, aparat yang berkuasa memompa lebih banyak ketidakpuasan dan kebohongan-kebohongan.

Merujuk pada telepati, Sigmund Freud menulis dalam karyanya yang berjudul New Introductory Lectures on Psychoanlysis, “Seseorang telah terdorong untuk curiga bahwa ini adalah orisinil, metode kuno dalam komunikasi.” Freud tidaklah merayakan kecurigaan ini, dan terlihat takut terhadap kelangsungan hidup manusia yang disertai oleh dinamika non-kultural. Lauren van der Post (The Lost World of the Kalahari, 1958) berhubungan dengan beberapa pengamatan mengenai komunikasi telepatik, melalui jarak, masyarakat yang dikenal dengan nama “Bushmen”. M. Pobers dan Richard St. Barbe Baker, juga menulis pada tahun 1950, menyaksikan telepati oleh masyarakat pribumi sebelum mereka dikolonisasikan oleh peradaban. Saya menyebutkan hal ini sebelumnya sebagai satu pandangan mengenai realita dari non-simbolis, koneksi langsung yang sebenarnya telah ada sejak lama, dan hal ini dapat dihidupkan kembali di antara reruntuhan representasi.

Bahasa dan seni mungkin sebenarnya telah muncul dan menyatu dalam ritual, inovasi budaya bermaksud menjembatani pemisahan antara manusia dengan dunianya. Istilah “animisme” sering digunakan, bahkan terkadang direndahkan, untuk menjelaskan suatu kepercayaan bahwa sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan manusia dan bahkan objek-objek yang tak memiliki hunian dengan “roh-roh”. Sama halnya istilah “anarkisme” adalah gambaran singkat dari penggambaran anarki, sudut pandang atau keadaan yang menolak hirarki, “animisme” gagal menangkap kualitas transformatif dari kesadaran yang dibagi bersama. Dalam pembahasan mengenai anarki, terdapat kesadaran untuk hidup bersama dalam kesetaraan dengan manusia lain yang mengharuskan penolakan terhadap segala bentuk dominasi, termasuk representasi kepemimpinan dan perwakilan politik. “Animisme” merujuk pada perluasan kesadaran dalam bentuk kehidupan lainnya dan bahkan “memercayai” bahwa ada kehidupan dalam bebatuan, awan, dan sungai. Fakta bahwa tidak ada kata yang berhubungan dengan animisme, sejalan dengan anarki, merupakan indeks atau daftar petunjuk mengenai bagaimana seberapa jauh jarak kita dari kesadaran ini. Green Anarchy secara eksplisit mengatakan bahwa anarki haruslah merangkul komunitas yang ada dalam kehidupan, dan dalam pengertian ini mengambil langkah menuju pembangunan kembali kesadaran ini.

Apakah manusia telah kehilangan kesadaran akan keterlibatannya pada komunitas hidup dengan kedatangan domestikasi, pembagian kerja dan agrikultur? Pembangunan monumen-monumen serta awal mula pengorbanan hewan dan manusia akan cenderung untuk mendukung hipotesis ini. Secara karakteristik, korban dari hal ini memegang tanggung jawab terhadap kemalangan dan penderitaan bersama, sementara alasan fundamental dari kehilangan komunitas menjadi tidak dikenali. Ritual yang termasuk “jumlah besar dari energi” (Knight in Dunbar, Knight and Power, 1999); juga sering disuarakan, dimultimediakan, emosional, dan berlebihan, memberi kesaksian pada rasa mendalam atas krisis yang mendasarinya.

Pergerakan dari animisme ke ritual memarelelkan transformasi hal-hal yang kecil, dari kelompok yang bertatap muka ke kelompok yang besar, yaitu masyarakat yang lebih kompleks. Budaya mengambil alih, dengan profesional ter-spesialisasi yang bertanggung jawab atas dunia yang kudus. Kerinduan akan perasaan sebenarnya mengenai kekerabatan dengan manusia lainnya serta keintiman yang egaliter dengan manusia lain tidaklah dapat diredakan dengan aktifitas ritual yang dikembangkan dalam sistem sosial hirarki. Kecenderungan ini memuncak dalam pengajaran mengenai agama-agama transeden, semenjak arti kehidupan kita di dunia terasa ada kejanggalan, kita seharusnya melekatkan harapan kita pada imbalan surgawi. Sebaliknya, seperti yang digambarkan Aka dan Mbuti di atas, perasaan yang menyatu dengan bumi serta semua penduduknya, dan perasaan bahagia serta eksistensi yang penuh arti, terlihat berjalan dengan baik ketika kita manusia hidup dalam egalitarian, kelompok yang saling bertatap muka.

Kembali pada bahasa, suatu persetujuan terhadap hal yang dangkal merupakan realita yang secara inheren tersingkap melalui bahasa–yang pada kenyataannya realita dengan jelas dimediasi oleh bahasa. Posmodernisme mengangkat hal ini dalam dua cara. Karena bahasa pada dasarnya merupakan sistem penunjuk diri, penegasan oleh posmodernisme, bahasa tidaklah sepenuhnya melibatkan peng-arti-an. Lebih jauh, hanya ada bahasa (sebagaimana hanya ada peradaban); tak ada jalan keluar dari dunia yang didefinisikan melalui permainan bahasa (dan domestikasi). Namun bukti arkeologi dan etnografi menunjukkan dengan jelas bahwa kehidupan manusia ada di luar representasi, dan tidak ada yang dapat menghalangi manusia untuk hidup seperti itu lagi—bagaimanapun dengan dengan kesalehan para posmodernis dalam penyesuaian diri mereka pada sistem, berdoalah agar hal ini tidak terjadi.

Tujuan dalam representasi pada “the society of spectacle” saat ini digambarkan dengan jelas oleh Guy Debord. Kita sekarang mengonsumsi imaji dari kehidupan: kehidupan telah beralih menjadi suatu bagian dari representasinya, sebagai spectacle. Pada saat yang sama semenjak teknologi menawarkan realitas virtual pada individu, ensemble media elektronik menciptakan komunitas virtual, simbol tahap lanjut dari kepasifan konsumsi dan keadaan yang tidak berdaya.

Tetapi neraca bagi tatanan yang berkuasa menunjukkan ramalan yang kacau. Untuk satu hal yang jelas, representasi dalam sektor politik bertemu dengan skeptimisme dan apatis yang similiar yang ditunjukkan melalui representasi secara umum. Pernahkah ada terdapat begitu banyak keluhan yang terus menerus mengenai demokrasi, dan dan juga dalam taraf kecil yang tertarik mengenai hal ini? Untuk mewakili atau diwakili oleh penurunan, pengurangan, baik dalam budaya simbolis maupun dalam kaitannya dengan kuasaan.

Demokrasi, tentu saja merupakan bentuk dari aturan. Partisipan anarki haruslah mengetahui mengenai hal ini, walaupun aliran kiri tidak mempunyai masalah dengan penguasaan. Para Anarko-sindikalis dan anarkis klasik lainnya gagal memertanyakan beragam institusi dengan lebih fundamental, seperti pembagian kerja, domestikasi, dominasi alam, kemajuan, masyarakat, teknologi, dll.

Mengutip kembali Riddley Walker, sebagai suatu penawar racun: “Saya dapat merasakan sesuatu tumbuh dalam diriku seperti gelombang laut yang mengatakan, HILANGKANLAH. Mengatakan, LUPAKANLAH, SATU-SATUNYA KEKUASAAN ADALAH KETIADAAN KEKUASAAN.” Inti dari anarki”.

Heidegger dalam Discourse on Thinking, memberikan nasehat bahwa sikap yang “terbuka terhadap misteri” menjanjikan “bidang dan dasar baru atas apa yang dapat kita pertahankan dan pikul dalam dunia teknologi tanpa dibahayakan olehnya. “Orientasi anti-otoritarian tidaklah terdiri dari sikap pasif, yang berubah hanyalah kesadaran kita. Malahan, teknologi dan kaki tangannya, budaya, haruslah dipertemukan dengan otonomi yang tegas dan penolakan yang melihat pada seluruh rentang waktu kehadiran manusia dan menolak seluruh dimensi keterkurungan dan penghancuran. TOTAL!!

Manually Translated | Konspirasi tinjabersayap [The Die Hardest Translator Of The World] (November 2009)

Selasa, 05 April 2011

Ketika Tanpa Kekerasan Sama Dengan Bunuh Diri

Ted Kacynski

Sekarang adalah musim gugur 2025, sistem tekno-industrial telah runtuh setahun yang lalu, tapi kau dan teman-temanmu baik-baik saja. Kebunmu tumbuh dengan subur di musim panas ini dan di pondokmu, kau memiliki persediaan sayur-sayuran, kacang-kacangan dan bahan makanan lainnya yang dapat dikeringkan akan menjadi bekalmu melalui musim dingin yang akan tiba. Kini kau sedang memanen kentang-kentangmu. Dengan sekop, kau dan teman-temanmu mencabut satu kentang setelah yang lainnya dan mecerabut akar umbi dari tanah.


Tiba-tiba saja temanmu menyikut lenganmu dan kau pun menoleh. Uh-oh. Sekelompok orang mendatangi jalan kecil menuju kebunmu. Mereka bersenjata. Sepertinya mereka sedang bermasalah tetapi kau tetap berdiri tegap. Pemimpin kelompok itu pun berjalan menghampirimu lalu berkata,


“Kentang-kentang yang kau miliki nampak bagus”

“Yeah”, jawabmu. “Kentang-kentang ini memang bagus"

“Kami datang ke sini untuk mengambilnya” kata pemimpin kelompok tersebut.

“Akh, persetan dengan kalian!” jawabmu. “Kami menghabiskan musim gugur yang panjang dengan bekerja keras untuk memelihara kentang-kentang ini…”


Pemimpin kelompok mengarahkan senapannya tepat ke wajahmu lalu berkata, “---- kau, telaso”. Kepada anggotanya ia menambahkan, “Dick, Ziggy, periksa pondok mereka dan lihat makanan apa saja yang mereka miliki. Kami hanya pindah dan menghabiskan musim dingin di sini. Mick, tangkap wanita jalang ini sebelum ia pergi menjauh. Dia memiliki bokong yang indah. Kita semua akan menggilirnya malam ini”.


Kau menjadi murka dan mulai berteriak, “Anak sundala’ kau! Kau tak bisa......”

Lalu senapan menyalak; BANG! Kau pun mati.


* * *


Tanpa kekerasan hanya bekerja ketika kau memiliki polisi untuk melindungimu. Dalam hilangnya perlindungan polisi, tanpa kekerasan sangat dekat dan setara dengan bunuh diri.


Tak dapat dipungkiri bahwa hal ini tidaklah begitu tepat pada semua waktu dan tempat. Di antara suku Pygmie di Afrika sebagaimana yang diuraikan oleh Colin Turnbull, kekerasan yang mematikan melawan manusia hampir tak diketahui. Dalam masyarakat pemburu dan peramu nomaden lainnya, orang-orang kadang kala membunuh seorang lainnya dalam perkelahian, akan tetapi mereka tak pernah menaklukkan teritori atau suku lainnya secara sistematis. Dalam kondisi seperti ini, tanpa-kekerasan tidak inkonsisten dengan kelangsungan hidup.


Tetapi, secara realistis, kondisi tersebut bukanlah kondisi yang akan berlaku jika dan ketika sistem tekno-industrial menjadi kolaps. Terdapat beberapa bagian orang di luar sana: Nazi, Hell’s Angels, para mafia Ku Klux Klan… serta banyak kelompok lainnya yang tidak termasuk dan tak dikenali. mereka tidak lenyap saat sistem itu runtuh. Mereka akan selalu berada di sekitar kita. Mereka mungkin berhasil saat menanam makanannya sendiri bahkan jika mereka tidak mencoba ataupun tidak ingin melakukannya oleh karena orang dari tipe yang semacam itu akan lebih banyak menemukan kesenangan untuk mengambil makanan daripada menanam makanan miliknya sendiri. Dan sejak meraka menjadi ganas, mereka mungkin akan membunuhmu atau memperkosamu hanya karena suatu kesenangan dari hal itu, bahkan mereka tidak membutuhkan makananmu.


Banyak orang, bahkan terlalu banyak, yang berada dalam kondisi sekarang merasa tentram dan seolah-olah–nyaman, mungkin dapat kembali menjadi ganas saat melakukan hal yang tidak-tidak terhadap makanan dan lahan agrikultur yang baik untuk menanam makanan. Kekurangan bahan pangan mungkin bukan menjadi hal penting yang disebut area “miskin” dunia dimana petani masih secara relatif memiliki ketercukupannya sendiri, namun di negara-negara industrial yang sepenuhnya bergantung pada pestisida, pupuk kimia dan bahan bakar bagi traktor (dan banyak hal-hal lain) dimana beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk menanam secara efisien, kekurangan makanan pasti menjadi hal yang akut saat sistem ini kolaps.


Mari lengkapi asumsi untuk berargumen bahwa negara yang terindustrialkan memilki cukup lahan yang baik untuk ditanami semua orang , dalam terori, akan dapat menanam makanan mereka sendiri dengan metode primitif. Dalam lenyapnya fungsi pemerintah, takkan ada cara untuk mendistribusi penghuni kota di daerah pedalaman dan secara sistematis menentukan bidang tanah sendiri setiap keluarga. Akibatnya, akan ada kekacauan dan kebingungan. Beberapa orang akan mencoba mengambil lahan yang terbaik menurut mereka, dan yang lain akan memusuhinya serta perkelahian yang mematikan akan muncul. Grup bersenjata akan mengorganisir dirinya sendiri demi keamanan mereka sendiri ataupun untuk tujuan-tujuan agresif. Jika kau ingin bertahan hidup dikolapsnya sistem ini, lebih baik kau mempersenjatai diri sendiri dan bersiap untuk menggunakan senjata dengan efektif. Artinya kau menjadi siap secara psikis sebagaimana juga secara fisik.


Bersenjata dan bersiap bertarung untuk pertahanan diri tidak hanya menjadi kondisi yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupmu sendiri, hal ini akan menjadi tugasmu. Para Nazi’s Hell’s dan Ku Klux Klan tidak akan menjadi musuh yang paling berbahaya bagi kebebasan. Karena orang-orang tersebut tak memilki aturan, kacau dan tanpa hukum, mereka tidak mungkin dapat menciptakan organisasi yang besar dan efisein. Akan jauh lebih berbahaya dengan orang-orang yang menjadi tulang punggung sistem yang ada saat ini, orang yang bisa beradaptasi untuk hidup dalam organisasi-organiasi yang disiplin yaitu: ilmuan-ilmuan borjuis, eksekutif bisnis, birokrat, pegawai-pegawai militer, beberapa polisi dan seterusnya. Orang-orang ini akan berminat untuk mendirikan kembali tatanan dan organisasi serta sistem teknologi secepat mungkin. Metode mereka akan menjadi tidak terlalu kasar ketimbang para Nazi dan Hell’s Angles namun tidak segan-segan untuk mengunakan kekuasaan dan kekerasan saat hal ini menjadi kebutuhan bagi pencapaian tujuan mereka. Kau MESTI bersiap untuk mempertahankan diri secara fisik melawan orang-orang ini.


Reprinted from Live Wild or Die #8 (2001)

Manually Translated | Konspirasi Tinjabersayap (Januari 2010)

Senin, 28 Maret 2011

Teknologi dan Pertentangan Kelas

-Wolfi Landstreicher

Perkembangan teknologi enam tahun terakhir—industri nuklir, sibernitika dan teknik-teknik informasi terkait, bioteknologi dan rekayasa genetika—telah memberikan perubahan mendasar dalam ruang lingkup sosial. Metode eksploitasi dan dominasi telah berubah, dan untuk alasan inilah ide lama tentang sifat dasar dan perjuangan kelas tidak cukup untuk bisa memahami situasi sekarang ini. 'Pekerja'isme para marxis dan sindikalis tidak lagi menawarkan sesuatu yang berguna dalam mengembangkan praktek revolusioner. Akan tetapi, penolakan konsep kelas bukan pula merupakan jawaban yang berguna untuk situasi saat ini, karena hal semacam ini [tersebut] akan menghilangkan sarana untuk memahami realitas kekinian dan bagaimana cara menyerangnya.

Eksploitasi tidak hanya berlanjut begitu saja, tetapi telah berkembang secara tajam sejak lahirnya teknologi. Sibernetika telah membuka desentralisasi produksi, penyebaran unit-unit kecil produksi dalam lingkup sosial. Secara drastis, otomasi secara drastis telah mengurangi jumlah produksi pekerja yang dibutuhkan dalam tiap proses manufakur . Sibernetika telah meciptakan metode perolehan keuntungan yang instant tanpa memproduksi sesuatu yang nyata, yang kemudian membantu modal\kapital berkembang sendiri dengan ongkos buruh yang minimal.

Kemudian, teknologi baru menuntut spesialisasi pengetahuan yang memang tidak tersedia untuk kebanykan orang. Pengetahuan ini menjadi harta yang berharga dari kelas yang berkuasa [ruling class] pada masa sekarang. Di bawah sistem industri yang lama, seseorang dapat melihat perjuangan kelas sebagai perjuangan antara pekerja dan pemilik alat produksi. Ini menjadi sesuatu yang masuk akal. Setelah perkembangan teknologi, orang-orang yang tereksploitasi telah mendapati diri mereka mengarah pada posisi yang sulit. Pada masa industri saat ini posisi pekerja yang sepanjang harinya bekerja di dalam pabrik tergantikan oleh pekerja harian, layanan sektor jasa, kerja paruh waktu, pengangguran, pasar ilegal, ilegalitas, tuna wisma dan penjara. keadaan seperti ini menjamin bahwa tembok pemisah yang diciptakan oleh teknlogi baru di antara pengeksploitasi dan yang tereksploitasi menyisakan sesuatu yang tak terobohkan.

Akan tetapi, sifat alamiah teknologi itu sendiri melampaui jangkauan mereka yang tereksploitasi. Awal perkembangan industrial mengambil fokus utamanya dalam penemuan teknik standarisasi pembiayaan rendah dengan profit/keuntungan yang tinggi dalam pabrikasi massal. teknologi yang berkembang kini tidaklah terlalu memfokuskan diri pada produksi barang-barang dalam artian teknologi yang kini berkembang, memfokuskan diri pada penyebaran secara luas kontrol sosial serta sedapat mungkin mengurangi keuntungan dari produksinya. Industri nuklir tidak hanya membutuhkan spesialisasi pengetahuan, namun juga tingkat pengamanan yang tinggi yang menempatkannya benar-benar dibawah kontrol negara dan memerlukan struktur militer yang sesuai dengan penggunaannya yang ekstrim dalam militer. Teknologi sibernetik memiliki kemampuan memproses, merekam, mengumpulkan dan mengirim informasi sesuai kebutuhan negara untuk dokumentasi dan memantau warganya yang juga merupakan pengurangan kebutuhan akan pengetahuan bagi mereka yang diatur dengan berbit-bit informasi—data—harapan, hal ini mereduksi kemampuan yang sesungguhnya/nyata dalam memahami mereka yang tereksploitasi. Bioteknologi memberi kontrol negara dan kapital terhadap sebagian besar proses-proses kehidupan yang paling fundamental itu sendiri—membiarkan mereka (negara dan kapital)menentukan jenis tetumbuhan, hewan—dan bahkan manusia yang bisa eksis.

Oleh karena itu teknologi-teknologi ini memerlukan spesialisasi pengetahuan dan dikembangkan untuk kepentingan peningkatan kontrol negara dan kapital terhadap seluruh kehidupan manusia bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kelas yang tereksploitasi sekarang dapat dipahami sebagai kelas-kelas yang terabaikan dari spesialisasi pengetahuan ini dan dari partisipasi yang nyata dalam pemungsian kekuasaan. Kelas pemodal/borjuis yang dimaksud dalam pengertian kini adalah golongan yang berpartisipasi dalam fungsi kekuasaan dan penggunaan dari spesialisasi pengetahuan teknologikal dalam artian yang sebenarnya . Tentu saja ada proses-proses dalamnya, dan batas antara kelas penguasa dan kelas pekerja, dalam beberapa kasus dua kelas ini,menjadi sulit untuk dipahami karena peningkatan jumlah penduduk yang terproletarisasi—kehilangan kemampuan/kebebasan untuk membuat keputusan atas kondisi eksistensi mereka yang mungkin telah mereka miliki.

Penting untuk diketahui meskipun teknologi-teknologi baru ini dimaksudkan untuk memberikan kontrol kepada negara atas kelas yang terabaikan dan segala kekayaan hasil bumi, justru mesin-mesin itu sendiri melampaui/tak dapat di kontrol oleh manusia. Keleluasan dan spesialisasi yang mereka perlukan berkombinasi dengan bahan-bahan material yang tak terprediksikan —atom dan sub partikel-partikel atom, gelombang cahaya, gen dan kromosom, dan lain-lain—hal ini untuk menjamin bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa memahami sepenuhnya bagaimana semua itu bekerja.

Aspek teknologikal ini tentunya yang telah menambah penderitaan kita akibat krisis ekonomi yang berlangsung. Meskipun demikian, ancaman bencana teknologi ini diluar kontrol siapapun juga yang memberi kuasa dalam mengontrol kelas yang tereksploitasi—ketakutan akan Chernobyl-chernobil lainnya, monster bermesin genetis yang lolos dari laboratorium—menciptakan penyakit dan kenyamanan, menggerakkan orang untuk menerima aturan para ahli yang telah membutikan batas-batas mereka secara terus menerus. Lebih jauh lagi, negara—yang bertanggung jawab kepada setiap orang atas perkembangan teknologi ini melalui militernya-mampu menghadirkan dirinya sebagai pengawas dalam melawan penyalahgunaan teknologi oleh korporasi-korporasi yang merajalela kini. Sehingga, kedahsyatan serta nafsu yang tak terkendali ini melayani pihak yang mengeksploitasi dengan baik dalam mempertahankan kontrol mereka terhadap seluruh populasi yang tersisa. Dan apakah mereka(kelas borjuis) perlu memikirkan mengenai kemungkinan musibah-musibah yang akan terjadi pada seluruh umat manusia di bumi ketika kekayaan dan kekuasaan mereka menyediakan rencana darurat yang hanya untuk melindungi mereka, bukan untuk kita ?

Oleh sebab itu, pengecualian teknologi baru dan kondisi baru serta bahaya yang dipaksakan pada kelas yang tereksploitasi akan meruntuhkan cita-cita usang tentang pengambilalihan sarana produksi. Teknologi ini-yang terkontrol maupun yang tak terkontrol-tak dapat memberikan tujuan manusia yang sebenarnya dan tidak ada tempat dalam perkembangan dunia bagi kebebasan individu untuk menentukan hidup mereka sesuai yang mereka inginkan. Jadi ilusi utopia para sindikalis dan marxis tak lagi dapat digunakan dalam dunia kita pada masa sekarang ini. Tetapi apakah pernah digunakan sebelumnya? Perkembangan teknologi baru secara spesifik berorientasi pada pengontrolan, tetapi semua perkembangan industri telah mengambil perlunya keseriusan dalam pengontrolan terhadap kelas non-eksploitator. Pabrik diciptakan untuk membawa produsen ke bawah naungan satu atap guna mengatur kegiatan-kegiatan mereka dengan lebih baik; garis produksi memekanisasi peraturan ini; setiap teknologi baru mempercepat pekerjaan pabrik, sehingga setiap waktu serta gerak-gerik pekerja lebih lanjut berada di bawah pengontrolan. Oleh karena itu, ide yang menyatakan bahwa pekerja dapat membebaskan diri mereka dengan mengambil alih sarana produksi masih selalu menjadi angan-angan. Ini adalah angan-angan yang tak dapat dipahami ketika proses teknologikal mengambil manufaktur sebagai tujuan utama mereka. Sekarang ketika tujuan utama mereka begitu jelas sebagai kontrol sosial, sifat nyata perjuangan kita harus jelas pula: menghancurkan segala sistem kontrol-(negara), modal dan sistem teknologi mereka, mengakhiri kondisi proletarianisasi kita dan penciptaan diri kita sebagai individu bebas yang mampu menentukan bagaimana kita hidup sesuai keinginan kita sendiri. Untuk melawan teknologi, senjata terbaik adalah senjata yang digunakan kelas yang dieksploitasi sejak awal era industri: sabotase.

Manually Tanslated_konspirasi tinjabersayap [disarm civilization, arms your desire] 12/03/2009

Kamis, 26 Maret 2009

Tujuh Dusta Tentang Peradaban

Ryan Prieur

1. Kemajuan.

Kebohongan tentang “kemajuan” tidak hanya bahwa hal itu bagus, atau yang tak terelakkan, tapi agar ia eksis, dimana hal tersebut senantiasa kita alami layaknya seperti sebuah garis lurus, dengan satu arahan yang sama, tak berbatas, dengan segala perubahan nilai positif yang tekandung di dalamnya. Kekuatan berpikir kita merasa, karena “kemajuan” adalah pusat kebohongan kebudayaan kita dan di situ ilusi-ilusi serta fantasi-fantasi mengenai itu yang berada di mana-mana:

Ada sebuah sistem yang dipelajari, dimana kita berangkat dari derajat yang “rendah” ke “derajat” yang tinggi – tetapi kenaikan ini tidaklah nyata, hanya cerita yang mereka ceritakan, dan perubahan itu hanya membuat kita tetap baik dalam dominasi sistem, sebagaimana kita menjual pengalaman untuk cerita yang kaku, naluri untuk intelek, perbedaan atas keseragaman, kebebasan atas kepatuhan, dan spontanitas atas kemungkinan. Kemudian terdapat sistem upah tenaga kerja, dimana kita seharusnya memulai dari posisi “rendah” ke posisi “tinggi”, tetapi beberapa dari yang kita lakukan, dan bagaimana pun “tinggi” hanya berarti dominasi sistem mempunyai sebuah pegangan yang ketat pada perhatian kita, penilaian kita, jiwa kita. Kemudian, sejarah teknologi, dimana perubahan mengumumkan “kebajikan” ketika pengaruh mereka malah membangkitkan kekuatan transformatif kita atas dunia, sementara itu secara bersamaan juga meningkatkan jarak emosional kita atau membuat kita lebih tergantung pada para spesialis, atau melingkupi manusia lebih dan lebih dengan segala hal yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, sebuah proses oleh Jerry Mander yang diidentifikasi sebagai sesuatu yang terbentuk dari dalam secara fisik. tempat terdalam yang masih membentuk kita dari dalam adalah dunia permainan komputer, sebuah permainan yang hampir tanpa pengecualian terbentuk di dalam pada mitos mengenai kemajuan, melatih kita untuk mampu mengatur sendiri dopamin bagi visi yang berkaitan dengan kekuasaan pernah meningkatkan kekuasaan, dan kemudian membiarkan kita memeroleh "kemenangan" begitu saja bukannya memerlihatkan kepada kita bagaimana cerita semacam ini benar-benar berakhir. Dalam kenyataan, tak ada satu pun yang mutlak "lebih baik" namun hanya merubahnya dalam relasinya sendiri, dan perubahan dalam relasi tersebut menukarkan kepekaan dan bentuk kolaborasi bagi diskoneksi dan dominasi tidaklah berubah namun hanya tidak dapat dicegah lagi, bukanlah sebuah proses yang tak terbatas namun bentuk pembatasan diri, bukan pula suatu hal yang positif melainkan destuktif.

2. Evolusi

Dalam hal ini tak ada perselisihan mengenai catatan fosil, yang mana dalam bentuk kehidupan di dunia telah mengubah banyak zaman. Ada suatu kebohongan terkait dengan proyek mitos mengenai “kemajuan” yang tekandung dalam perubahan tersebut, untuk mendeklarasikan bahwa mereka sedang menuju pada satu arahan yang sederhana, searah, dan senantiasa menjadi “lebih baik”. Hal ini adalah suatu argumen yang berputar-putar (sirkuler), dimana kegilaan secara kolektif (gangguan jiwa) tersebut kemudian merusak kedoknya sendiri secara biologis untuk kemudian menjadi sebuah bentuk pembenaran diri.

Dalam kenyataannya perubahan biologis tersebut tidaklah sama dengan dusta tentang ‘kemajuan’-mereka menuju ke segala arah, seiring dengan kenaikan dan penurunan populasi, organisme menjadi lebih besar dan lebih kecil, dan bergerak dari dalam air ke daratan dan kembali ke air. Dan tak ada yang menjadi lebih 'baik" kecuali spesis yang mampu beradaptasi dengan lingkungan mereka, dan dalam absennya bencana, totalitas kehidupan menjadi lebih beraneka ragam dan jauh lebih kompleks.

Tetapi dalam dua jalan tersebut, manusia beradab justru melakukan hal yang sebaliknya! Kita justru tidak beradaptasi terhadap dunia luas tapi malah memutarbalikkan kenyataan tersebut agar sesuai dengan keinginan kita sendiri, bahkan memutarbalikkan semuanya agar bersesuaian dengan fantasi kultural kita yang dangkal. Dan kita malah tidak mengalami peningkatan atau pun penurunan dalam segi keberagaman serta kompleksitas secara keseluruhan, dengan membawa spesies menuju pada kepunahan dan kemusnahan atau mengasimilasikan masyarakat manusia dalam satu keseragaman monokultur global. Jadi dengan apapun kau menyebut sejarah biologis dunia, peradaban bukanlah sebuah perpanjangan dari hal tersebut tetapi sebuah penolakan terhadapnya, sebuah malapetaka.

3. Segala sesuatu adalah alamiah

Dengan bahagia sebagian besar masyarakat mengakui hal ini sebagai sebuah gangguan filosofi-palsu (pseudo-philosophical) yang teramat bodoh, tetapi bagaimanapun juga saya tetap akan menjatuhkannya. Argumen yang tersisa pada wilayah semantik yang terdistorsi, sebuah redefenisi terhadap yang “alamiah” guna dapat menampung segala sesuatunya, karena aku (manusia) berkata demikian. Peradaban itu alamiah karena manusia adalah binatang, pembuangan limbah beracun adalah hal yang alamiah karena segala hal tersebut berasal dari bumi, dan demikian seterusnya........ bla bla bla.

Masyarakat yang sebenarnya tidak menggunakan kata “alamiah” pada jalan ini. Mungkin adalah suatu hal yang "alamiah“ jika aku mengambil tongkat dan menghantamkannya di kepalamu, tapi kamu akan lebih suka jika saya tidak melakukannya, maka kamu pun mulai memberi defenisi terhadap kata-kata seperti “membunuh/merusak” untuk mengungkapkan dan mempertahankan hal yang kamu sukai. dalam cara yang sama, masyarakat mendefenisikan yang “alamiah” guna mengekspresikan dan mempertahankan pilihan yang mereka sukai atas hidup berbagai pepohonan yang digantikan dengan pohon-pohon plastik, padang rumput berganti menjadi lahan parkir, sungai-sungai yang airnya dapat diminum menjadi sungai-sungai yang mengandung dioxin. Inilah apa yang saat ini dimaksudkan yang "alamiah", dan apabila kita tak ingin mati karena kanker dan menjadikan bumi menjadi gurun pasir beracun, kita punya sebuah tanggung jawab untuk membahasakan keterpisahan yang alamiah dari yang tidak alamiah dan memilih yang alamiah dalam artian yang sebenarnya.

Jika kamu menginginkan sebuah defenisi yang spesifik, kekayaan alamiah pada dasarnya berasal dari pola simbiosisnya dengan alam, dan alami bersumber dari pola simbiosis kehidupan di bumi secara keseluruhan, sementara pola simbiotik berarti hubungan yang secara mutual saling menguntungkan satu sama lain, dimana sifat yang saling menguntungkan lebih diutamakan. Mendefenisikan "saling menguntungkan" mendorong segala batasan dari keterbatasan bahasa kita, namun dalam hal ini saya lebih sepakat untuk menyebutnya sebagai cara untuk membangkitkan kehidupan yang otonom serta keberagaman bentuk kehidupan. Namun apabila kamu masih belum memahami makna kehidupan sebenarnya, maka berusahalalah untuk mencarinya lebih giat lagi...bodoh!!!

4. Teknologi itu netral.

Dalam segala kebohongan tentang peradaban, yang satu ini adalah yang paling tersembunyi dan membahayakan, paling menantang untuk membuktikan kesalahan yang terkandung di dalamnya, satu yang sangat timpang dalam pemahaman masyarakat yang justru sangat dikenali dengan lebih baik oleh masyarakat itu sendiri. Kebohongan besar semacam itu sangat sulit untuk dipahami. Sebuah poin referensial tersendiri dan sangat sulit untuk keluar/melepaskan diri darinya. Untuk melepaskan diri dari hal tersebut bukanlah mengenai masalah belajar menyederhanakan argumen namun ini berkaitan dengan bagaimana belajar untuk mengenali segala perbedaan secara keseluruhan serta cara berpikir yang jauh lebih kompleks lagi.

Kebohongan tersebut memiliki dua bentuk yang justru mengaburkan keduanya. Salah satu dari kedua bentuk tersebut mengatakan bahwa teknologi sebagai satu bagian dari keseluruhan adalah "netral", dimana "teknologi" mungkin saja secara samar-samar didefinisikan sebagai teknologi industri modern. Bentuk yang lain mengungkapkan bahwa tiap bagian teknologi adalah netral. Strategi saya untuk menyerang bentuk yang kedua dan membuat bentuk yang pertama terlihat menyedihkan adalah dengan menyatakan bahwa tak ada bagian dari teknologi yang netral, bahwa tiap tehnik, teknologi, dan mesin memilki motif dan hubungan-hubungan tersendiri.

Pertama, saya ingin mengungkapkan "keanehan" kebohongan yang berkaitan dengan defenisi yang "netral" secara internal. Sesuatu disebut netral jika kamu dapat menceritakan bagaimana hal tersebut membawa kebaikan dan keburukan. Kapan kita pernah pernah menggunakan defenisi ini dalam kehidupan yang sesungguhnya? Apakah kita bisa mengatakan bahwa pembunuhan berantai seorang pria adalah netral karena pembunuhan tersebut memerkosa dan membunuh wanita hanya disebabkan oleh wanita tersebut adalah seorang penagih utang dan pada lain hal pria tersebut memiliki perangai yang bersahabat pada orang disekelilingnya? Jika kamu bekerja dalam suatu pabrik tiap harinya untuk belajar bagaimana menyabotase pada malam hari, apakah kamu berada di pihak yang netral pada pabrik tersebut karena pada saat yang sama kamu menolong sekaligus menyerangnya? Tentu tidak! Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah hal yang sama dengan argumen menyedihkan yang digunakan orang-orang untuk mendeklarasikan kenetralan teknologi: televisi itu netral karena tv tidak hanya membuat kita sebagai konsumen pasif dari subjek keseragaman budaya yang berada di bawah satu pusat kontrol, namun hal ini dapat memancarkan informasi yang berguna. Bendungan itu netral karena sementara mereka menenggelamkan ekosistem dan membuat ikan-ikan tidak bisa kemana-mana, mereka juga menghasilkan listrik lewat bendungan. Bahkan bom atom sekalipun adalah netral jika kita bisa membayangkan suatu cerita cockamamie tentang betapa baiknya cerita tersebut.

Penipuan/kebohongan pada level selanjutnya adalah mengatakan bahwa "cara kita menggunakan" teknologi adalah hal yang penting. Sebagai misal, mobil itu netral karena kamu bisa menggunakannya berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, atau dengan sengaja membawa lari seseorang. Namun sebagaimana yang dinyatakan oleh Jaques Ellu, bahwa pernyataan terakhir yang disebut bukanlah mengenai masalah kegunaan--namun hal ini adalah suatu kejahatan. Menyebutnya sebagai sesuatu yang berguna dapat menjerumuskan pandangan kita kedalam ruang artifisial antara penggunaan mobil secara normal dan kejahatan, dan bukannya mengembalikannya pada inti permasalahan yang sebenarnya --berada tepat di tengah-tengah bias yang ekstrim dalam penggunaan mobil secara umum.

Bahkan jika kita mengabaikan eksploitasi dari "resources," pergeseran atau pembunuhan masyarakat adat, dan pembuangan racun yang menjadi keharusan pabrik manufaktur dan bahan bakar mobil, bahkan jika kita mengabaikan jutaan benturan yang mematikan serta menimbulkan kebocoran yang beracun, dan kita hanya melihat mobil sebagai alat-alat masyarakat konsumsi, maka kita masih bisa melihat dampak buruk yang bisa terjadi lagi.

Dengan memindahkan kita dari atau tempat ke tempat lainnya dengan begitu cepat, mobil memberi jarak dalam lingkungan kita secara fisik, dan ruang dalam jarak ini akan diisi dengan jalan dan lahan parkir yang menampung semua mobil. Jalan beraspal yang tidak ramah lingkungan, kehidupan masyarakat urban yang semrawut, dan mal-mal yang pada prakteknya tidak dapat dipisahkan dalam teknologi automobil. Dan juga, untuk alasan yang kompleks, kecepatan melampaui batas terendah yang menjadi ketetapan sebenarnya semakin meningkatkan mobilitas. Juga, sekali jarak ini telah dimasukkan, kamu membutuhkan mobil untuk melakukan segala hal. Untuk memperluas pandangan Ivan Illich, "jika kau tinggal di Los Angeles kau tak perlu menggunakan kakimu sundal."

Kendarai mobilmu, dan kita tak perlu berjalan kaki untuk menempuh jarak 40 mil dalam sehari melalui jalur bebas -- bergerak cepat melalui jalan aspal dan membentuk komunitas kita secara fisik jadi itulah segala hal yang kita butuhkan dalam menempuh jarak-jarak tersebut. Kita menghemat waktu dalam mobilitas, kita mencurahkan segala waktu dan energi yang kita tempatkan di dalam mobil-mobil, dan kita memeroleh kembali otonomi melalui kesempatan yang kita dapatkan untuk menggunakan kaki kita sendiri. Dan kita juga memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Karena mobil menggerakkan kita untuk meninggalkan segala hal dengan begitu cepatnya, membuat kita lebih tertutup antara satu sama lain, mereka mengisolasi kita dari realita yang berada di sekitar kita, dari orang lain dan alam, dan mereka memungkinkan kita untuk mengganti hubungan erat dengan jarak yang sangat singkat. Tanpa mereka kita terhubung secara langsung dan berkaitan dengan apa yang ada dihadapan kita; kita mengenali tetangga-tetangga kita dan lingkungan kita.

Saya dapat membuat argumen yang sama berkaitan dengan komputer, televisi, serta listrik, atau bahkan bahasa yang telah tertulis. Akan tetapi poinnya disini adalah tidaklah sekedar/sesederhana sebagai bentuk penolakan keseluruhan kategori yang berkaitan dengan dengan teknologi, namun lebih pada bagaimana kita belajar untuk memandang kesatuan serta berbagai motif yang terbentuk dalam teknologi itu sendiri tanpa memperdulikan segala hal yang berkaitan dengan penggunaannya, dan termasuk praktek di dalamnya atau pun menolak segala teknologi tersebut yang mendasari pemahaman ini.

Defenisi umum dari nilai "guna" itu sendiri merupakan trik bahasa yang secara tidak sadar membatasi apa yang masih dapat ternegosiasikan. Perlu dicatat di sini bahwa hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan para konsumer serta para ahli mesin, yang secara samar-samar telah memberikan ijin untuk menggunakan apa pun dengan segala cara. Apakah automobile adalah teknologi, ataukah penggunaan dari mesin pembakarannya yang merupakan teknologi? Apakah teknologi pembakaran secara internal yang merupakan teknologi ataukah penggunaan api/pengapiannya yang merupakan teknologi?

Beberapa masyarakat purba menggunakan teknologi dari roda hanya dalam pembuatan tembikar saja. Ayo mari buat yang seperti itu....!! "tidak, tidak, mobil adalah teknologi, kegunaannya bergantung pada kemana saya akan membawanya. Itulah satu-satunya hal yang kalian ijinkan untuk dipertanyakan."

Jika kalian tetap menginginkan diskusi ini tetap berlanjut, cepat atau lambat kalian akan mendengar sesuatu, misalnya "mobil dapat berfungsi dengan tenaga listrik bukannya dari hasil pembakaran bensin" atau "kita dapat menggunakan solar atau pun tenaga angin dan bukannya nuklir." Kemudian kalian dapat mengatakan bahwa mereka memilih untuk menggunakan satu diantara teknologi lainnya untuk kegunaan yang pada dasarnya sama. Jadi dengan semua ini mereka akan mengetahui segalanya bahwa teknologi tidaklah netral.

5. Kita tak bisa kembali.

Seperti di atas, hal ini adalah murni sebagai doktrin agamis--tetapi yang satu ini sangat jelas sangat menipu dengan runtuhnya peradaban lampau di seluruh dunia dari tiap orang yang ingin "kembali", dan dengan keberuntungan atau oleh individu-individu yang cukup beruntung atau mendapat pengecualian sepanjang sejarah yang dihempaskan keluar oleh sistem dan memiliki kedekatan dengan alam. Dalam satu hal, bagaimanapun, hal ini benar: masyarakat yang eksploitatif tidak bisa kembali lagi dan hanya dapat terus menanjak hingga mereka hancur berkeping-keping. Untuk menghindari berpikir lebih jernih mengenai hal ini, kita dapat mengatakan pada diri kita sendiri hal sebagai berikut:

". . . masyarakat mendefenisikan "alami" untuk mengekspresikan dan memertahankan apa yang mereka sukai berkaitan dengan kehidupan pepohonan yang diganti dengan pohon-pohon plastik, padang rumput berganti menjadi lahan parkir, sungai-sungai yang airnya dapat diminum menjadi sungai-sungai yang mengandung dioxin. Inilah apa yang saat ini dimaksudkan yang "alamiah", dan apabila kita tak ingin mati karena kanker dan menjadikan bumi menjadi gurun pasir beracun, kita punya sebuah tanggung jawab untuk membahasakan keterpisahan yang alamiah dari yang tidak alamiah dan memilih yang alamiah dalam artian yang sebenarnya. . ."

6. Segalanya-atau-masa depan hampa.

Menurut cerita ini hanya ada dua kemungkinan: melanjutkan peradaban indutrial, ataukah mengakhiri secara total kehidupan di dunia. Melanjutkan peradaban secara umum berarti melanjutkan penggunaan mesin untuk mentransformasikan relasi sosial ke dalam pelegalan dominasi dan penghisapan atas diri kita sendiri. Bagi teknopilia ini bisa berarti menambang di planet-planet yang lain, atau realitas virtual yang lebih mendalam, bagi kaum liberal itu berarti memeroleh versi kehidupan kelas menengah keatas yang teridealisasikan dalam negara-negara kaya pada akhir abad 20-an, memperpanjang hal tersebut ke seluruh dunia, dan tetap terdefenisikan melalui pusat kontrol mekanis. Dan sekiranya peradaban kita runtuh -- jangan pernah menoleh! Tak ada apapun di sana, yang ada hanyalah amnesia absolut yang mengerikan di mana kita dapat berbicara hanya mengenai terma apa yang "harus" kita lakukan untuk mencegahnya. Manusia mengekspresikan hal ini dengan berbagai pengumuman-pengumuman menjengkelkan yang justru menyamarkan hal seperti "jika kita tidak mereduksi emisi rumah kaca sebanyak 50% dalam sepuluh tahun, maka hal itu akan sangatlah terlambat."

Terlambat untuk apa suntala'?

Tentu saja realitas adalah reforma yang dianjurkan secara politis adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidaklah cukup, bahwa peradaban kita adalah kereta yang sedang melaju dan akan tak akan pernah melamban hingga ia keluar dari jalurnya, dan masa depan yang ada akan larut dalam daerah terlarang untuk dilihat. Kepunahan dari 95% spesis termasuk manusia bukanlah suatu hal menyeramkan yang tak dapat terpikirkan namun adalah sebuah kemungkinan spesifik yang dapat kita pikir secara teliti. Kemungkinan yang lebih "lunak" adalah skenario perjalanan para pejuang dimana beberapa manusia bertahan di bumi yang tengah sekarat. Kelunakan tersebut masih dapat menjadi desentralisasi secara politis dan penyembuhan ekologi seperti yang mereka sebut dengan jaman "kegelapan" di Eropa setelah kejatuhan Roma. Poin saya adalah, kita mampu menyebarluaskan hal ini! Segala mimpi-mimpi dan aksi yang dapat memengaruhi dunia yang sedang kita cita-citakan, namun selama ini mereka berpikir kita tidak mampu memeliharanya.

Ada suatu masa di mana letupan ini akan menyebabkan kalian berhenti mencoba untuk menyelamatkan keseluruhan apa yang telah kau bangun dan menggantinya dengan menyelamatkan apa yang kau bisa selamatkan. Maksud dari "segalanya-atau-kebohongan hampa adalah untuk membendung perubahan mental ini, untuk menjaga perhatian kita agar tetap terhubung pada salah satu pilihan yang tersedia; Apakah menyelamatkan dunia sebagaimana yang kita ketahui selama ini, ataukah menyerah begitu saja. Bila kita melihat perbedaan dunia secara radikal adalah mungkin dan beberapa di antaranya akan segera terjadi, jika kita mulai mengimajinasikan dan giat membangun persaingan terhadap peradaban industrial, kita harus menyerang sistem "ekonomi" dan terlebih lagi menyakiti perasaan orang-orang yang telah menginvestasikan ego-ego mereka dalam kultur dominan saat ini. Cara lain mereka dalam melindungi egonya adalah dengan menciptakan kebohongan berikutnya:

7. Peradaban hanya terjadi sekali saja.

Ide-ide khas ini memiliki kesamaan dengan ide-ide di atas, tetapi kekurangan tersebut yang terjadi bukanlah sesuatu yang lain dari sistem yang diperadabkan, tetapi merupakan peradaban yang lain. dan versi anti-peradaban mengatakan bahwa jika kita mampu menjatuhkan peradaban saat ini, maka hal-hal buruk ini takkan pernah terjadi lagi. Saya sama sekali tidak tahu dari manakah orang-orang memperoleh ide-ide semacam itu, sekalipun mereka mengetahui sesuatu yang tidak saya tahu mengenai era baru transformasi dari kesadaran manusia. Pelajaran yang keras dari sejarah adalah bahwa setiap bagian dari peradaban sedang mengalami kejatuhan dan bersamaan dengan itu peradaban secara luas tetap saja mengeluarkan letupan-letupan kecil.

Saya mendefenisikan peradaban secara umum sebagai persekutuan antara kesadaran yang mendominasi dan eksploitasi yang memungkinkan secara teknis, menciptakan masyarakat yang secara sistemik mengambil lebih dari apa sepantasnya. Ya... minyak saat ini telah makin menyusut, akan tetapi peradaban sebelumnya telah mengalami jatuh-bangun ribuan tahun yang lampau tanpa minyak, dan saya melihat tak ada alasan sama sekali bagi mereka untuk melakukannya lagi. Pola umum tetap dapat berfungsi dengan baik, jika perlu, hanya bergantung kekuatan otot dari para budak dan hewan yang telah terdomestikasi. Dan ketika kalian bergantung pada segala logam serta peralatan berat yang senantiasa berbohong, dan kebiasaan yang masih terpelihara hingga kini, serta segala pengetahuan teknis yang masih`tetap terpelihara, semua hal tersebut sangat meyakinkan kita bahwa kita akan dilingkupi oleh peradaban-untuk bermain atau pun menentang-hingga kita menuju pada kemusnahan atau berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari sebelumnya ana' sundala..........!!!!!!!!!!!

BECAUSE WE ARE ALL ANIMAL!

Manually Tanslated_konspirasi tinjabersayap [disarm civilization, arms your desire]